Tidak perlu diperdebatkan perbedaan ini ya, Sobat. Saya sendiri menganggap ini sebagai sesuatu yang unik dan mengesankan. Kami di Bekasi hari ini baru menyelesaikan puasa hari pertama, sementara orangtua saya di Jakarta Selatan sudah menyelesaikan hari kedua. Kami tidak ribut atau saling mempengaruhi. Yang ada justru saling memahami pilihan masing-masing.
Yang lucu justru terjadi beberapa tahun yang lalu, saat kami datang ke rumah mertua di Bogor setelah Shalat Ied di Jakarta. Kami datang dalam keadaan segar bugar, sementara yang di Bogor justru terlihat lemas karena masih menjalankan puasa hari terakhir. Saling ledek akhirnya terjadi antara istri saya dengan Orangtua dan kakak-kakaknya. Sungguh kejadian yang lucu. Setidaknya buat kami yang tidak puasa.
Untuk Ramadhan tahun lalu yang Lebaran-nya diundur, saya juga memilih ikut memundurkan Lebaran, walaupun teman-teman saya memilih untuk tidak berpuasa lagi. Pada hari terakhir tersebut, saya dan teman saya hunting foto mengitari Jakarta yang lengang. Saya puasa, dia tidak. Saya memang lebih senang ikut keputusan pemerintah, bukan NU atau Muhammadyah. Anda bisa melihat postingan saya saat hunting tersebut di sini dan situ.
Jadi Sobat, saya pikir kita seharusnya bisa melihat ini sebagai keberagaman yang unik. Tak perlu merasa kesal jika orang lain berbeda pandangan dengan kita, apalagi toh kita tidak rugi atau untung dengan adanya perbedaan tersebut.
Selamat berpuasa…..


Benar, yang seperti ini tidak perlu diributkan lah ya
Selamat berpuasa!!
Tengkyu, Gan. Met puasa juga. Eh, ente puasa juga, Gan?
Sama-sama. Kebetulan saya tidak berpuasa, hehehe
berbeda itu indah…
Sama dong Om, saya juga baru berbuka puasa perdana nich.
Semoga lebaran besok gak pake molor lagi ya Om.
Selamat berpuasa Sahabat semua…
@Zilko, ocee…. hehehe…
@Zankjex, betuuulll…..
@Irfan, yup, mudah-mudahan ngga molor lagi. Wkwkwkw….. Met puasa….
Met Puasa juga ya Om.
Tugas kita adalah beribadah, bukan memperdebatkan hal semacam itu ya, Om.
Met puasa Om. ..
perbedaan itu indah..
wah, nando beda ama orangtua?haha
met puasa nand………..
Yups, perbedaan itu lumrah.
Asal kita tau aja alasannya, bukan hanya ikut2an semata
Mas Nando… kalo ada salah salah kata/ tulisan mohon dimaafkan ya… maaf lahir batin… Happy Ramadhan, selamay berpuasa
Makasih…
Perbedaan adalah rahmat dari Yang Maha Kuasa sob ….
Mari kita cari persamaannya dari semua aliran untuk dijadikan kebersatuan umat …
Selamat menjalankan ibadah puasa …
@All, yup, setiap orang itu unik dan berbeda. Met puasa, yaaa….
@Samaranji, sama-sama Mas Samaranji. Mohon maap lahir bathin.
Bukan perbedaan yang dipermasalahkan,tapi masalahnya adalah kuat dan mampu kah kita menjalani tugas ibadah ini demi mendapatkan amal menuju surga yang indah.
*Merenung*
selamat berpuasa ya bang, biar pun beda tapi saya tetap suka karena imam di rumah saya kan masih bapak, sebagai anak saya ikut wejangan orang tua. Agar terasa indahnya kebersamaan dalam berpuasa. Perbedaan itu kan ciri Indonesia!
Berbeda tapi tetap satu.
Mudah2an lebarannya tahun ini bareng, soalnya rasanya lebih afdol aja gitu kalo bareng2
Betul Om Gilang, Kompak lebih Rame.
perbedaan bukan berarti kita harus saling bermusuhan, justru karena perbedaan tersebut akan menjadi indah, selamat menjalankan Ibadah Puasa semuannya,
bagi Agan ane mau tukeran link nih bolehkan.
Boleh.
selamat menjalankan ibadah puasa..
setuju perbedaan bukan untuk diributkan.. cuma agak heran ya, dulu-dulu kayaknya kita sering satu suara.. hehehe
Menurut saya kita jgn menafikkan perbedaan yang terjadi,
karena terlalu banyak yg merasa berkompeten melakukan perhitungan sendiri,
jadi kekalifahan (pemerintah) dicuekkin.
Saya setuju dengan adanya perbedaan ini jgn mengakibatkan permusuhan,
tapi saya ga ngerti indahnya dimana, bila setiap aliran dengan ego masing2 itu berbeda?
Perbedaan awal Ramadhan ini tak ubahnya perbedaan sholat Subuh dengan atau tanpa doa Qunut, atau sholat Tarawih 11 rakaat dan 23 rakaat. Ini hanya masalah kecil yang tidak perlu diperdebatkan. Saya yakin Allah juga tidak mempermasalahkan hal ini. Yang penting seberapa besar niat dan keseriusan anda menjalankan ibadah Ramadhan ini.
Perbedaan terjadi karena manusia memiliki pola pikir yang berbeda-beda, berdasarkan pendidikan dan pengalamannya. Dan itu wajar. Ibaratnya dua orang dokter yang sama-sama sudah bergelar profesor, juga bisa berbeda pendapat dalam menangani penyakit yang dialami seorang pasien. Karenanya dalam dunia medis sering kita dengar istilah ‘second opinion’. Dan dua dokter yang berbeda pendapat itu lebih beresiko daripada dua akhli Rukyah yang berbeda pendapat, karena urusan kesehatan adalah urusan nyawa.
Saat ini anda sependapat dengan saya bahwa dalam hal ini keputusan pemerintah adalah yang paling benar. Dan anda merasa heran, mengapa masih banyak yang merasa lebih pintar dari pemerintah dan membuat keputusan sendiri kapan mulai berpuasa. Betul?
Apakah anda tidak pernah berbeda pendapat dengan pemerintah, Sobat? Apakah anda menganggap pemerintah selalu benar? Saya yakin tidak.
Ada kalanya anda menganggap bahwa pemerintah telah salah mengambil kebijakan. Mungkin saat menaikkan harga BBM, saat menangani sebuah musibah dll.
Alasan bagi anda dan saya untuk mengikuti keputusan pemerintah berkenaan dengan awal Ramadhan, adalah karena anda dan saya merasa tidak memiliki cukup pengetahuan untuk membantahnya. Dan karena pemerintah bertanggung jawab atas seluruh rakyat, bukan hanya golongan tertentu seperti NU dan Muhammadyah, maka anda dan saya setuju untuk mengikuti keputusannya.