Si Kopral Jerman yang Pantang Menyerah

….the Rise of Evil #2

Kisah ini adalah sambungan dari kisah sebelumnya, yaitu Sang Pelukis Gagal. Saya harus membagi kisah ini dalam beberapa bagian karena ceritanya memang cukup panjang. Tetapi untuk memudahkan anda membacanya, tiap sambungan pada kisah ini saya hubungkan dengan sebuah link hingga menjadi sebuah rangkaian cerita yang utuh. Berikut ini adalah kelanjutan perjalanan Addie yang mulai tumbuh dewasa.

Bertahun-tahun Addie hidup sebagai pelukis jalanan. Hingga akhirnya, ia mendengar kabar bahwa kehidupan pelukis di Jerman lebih terjamin. Ada banyak galeri yang memamerkan berbagai karya seni di Munich. Pada tahun 1913, Addie menulis surat kepada Angela, meminta bagian warisan ayah mereka yang selama ini Addie tak sudi menerimanya. Di dalam suratnya, Addie berbohong dengan mengatakan bahwa pendidikannya berjalan lancar, dan sudah banyak peminat yang menginginkan karya-karyanya.

Angela datang menemui Addie di Stasiun Kereta Wien bersama putrinya yang baru berusia 5 tahun, Geli. Ia terkejut melihat Addie yang begitu lusuh dan kotor, berbeda dengan yang dikatakannya dalam surat. Ia meminta Addie untuk pulang ke rumah mereka. Addie menolak dan mengatakan bahwa ia akan mengadu peruntungannya di Munich. Angela lalu menyerahkan uang warisan hak Addie yang selama ini disimpannya dan meminta Addie agar berhati-hati menggunakan uang tersebut. Addie berangkat ke Munich.

Saat pecah Perang Dunia I pada tahun 1914, Addie bergabung dengan 16th Bavarian Reserve Regiment dengan pangkat Prajurit. Resimen ini beroperasi di Prancis dan Belgia.

Pada suatu ketika, saat rombongan besar resimen ini sedang melakukan perjalanan darat yang panjang di Belgia, tiba-tiba muncul serangan mortir yang datang bertubi-tubi. Hanya 600 anggota resimen yang selamat, termasuk Addie. Mereka yang selamat mendapatkan kenaikan pangkat. Addie kini berpangkat Kopral.

Addie adalah prajurit pemberani dan berdedikasi tinggi. Saat seorang perwira mencari sukarelawan untuk mengantarkan surat ke kantung pertahanan Jerman lain, Addie langsung mengajukan diri. Dan dia berangkat seorang diri melewati garis pertahanan musuh. Saat menunggu repply surat, kantung pertahanan tersebut mendapat serangan bom dan artileri berat. Hanya Addie yang selamat. Tetapi kakinya terluka hingga harus dirawat.

Saat menjalani perawatan, Addie mendengar seorang prajurit yang kakinya terluka tembak bercerita sambil tertawa-tawa bahwa ia menembak kakinya sendiri supaya tidak perlu bertempur dan bisa bermain kartu. Addie marah dan menuduh prajurit tersebut tidak memiliki loyalitas terhadap prajurit lain yang tengah berjuang membela negara. Ia menjungkirbalikkan meja tempat prajurit tersebut tengah bermain kartu dengan rekan-rekannya. Seorang dokter berpangkat perwira datang melerai dan memerintahkan Addie segera pergi esok hari.

Pada sebuah pertempuran yang terjadi di Belgia tahun 1918, resimen Addie mendapat serangan bom gas beracun. Ribuan prajurit tewas. Addie berhasil mendapatkan masker sebelum kehabisan nafas. Ia kembali mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Kali ini matanya yang harus mendapat perhatian khusus, karena gas beracun tersebut selain meracuni paru-paru, juga membuat mata menjadi bengkak dan gatal.

Saat sedang dalam proses penyembuhan, dokter yang merawat Addie mendapat berita dari garis depan yang langsung ia umumkan saat itu juga. Bahwa pimpinan tertinggi tentara Jerman, Jenderal Hindenburg, telah menarik pasukan dan menyatakan bahwa; Jerman menyerah pada sekutu.

Addie mengerang.

(go to next chapter)

Iklan

2 thoughts on “Si Kopral Jerman yang Pantang Menyerah

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s