Sang Orator

.… the Rise of Evil #3

<< Go Back to Chapter 1 

Ini adalah bagian ketiga kisah si Addie, seorang pemuda Austria yang mencoba peruntungannya di Jerman pada awal abad ke 20. Ia bergabung dengan pasukan Jerman pada kisah bagian kedua, Si Kopral Jerman yang Pantang Menyerah. Berikut ini adalah kelanjutannya.

Setelah kekalahan Jerman pada Perang Dunia I, Addie kembali ke Munich. Bintang penghargaan prajurit yang diterimanya semasa perang, selalu terpasang di dadanya.

Pada bulan April 1919, ia menyaksikan para demonstran dari partai komunis yang berkuasa, merobohkan patung Jenderal Hindenburg di tengah kota Munich. Hingga kemudian datang pasukan militia yang langsung menembaki para demonstran tersebut. Pasukan ini dipimpin oleh Kapten Ernst Roehm.  Dengan dingin, sang kapten menembak mati seorang demonstran yang sudah terkapar tak berdaya.

Jatuhnya monarki dan kalahnya partai komunis menyebabkan munculnya berbagai faksi baru di Jerman. Untuk mempertahankan keamanan, pemerintah mengirim sejumlah tentara untuk menyusup dan memata-matai faksi-faksi tersebut. Pada bulan September 1919, Addie ditugaskan untuk memata-matai Partai Buruh Jerman (NSDAP) yang bermarkas di sebuah cafe kumuh di Munich. Partai yang dipimpin oleh Anton Drexler tersebut dicurigai beraliran kiri dan tengah mempersiapkan revolusi.

Addie mendatangi cafe yang lengang tersebut dan duduk di sebuah sudut meja sambil mendengarkan seorang pembicara berpidato. Pembicara tersebut tengah menyampaikan sebuah agenda partai yang ingin membentuk Negara Bavaria Merdeka untuk menghindari kehancuran ekonomi yang tengah dialami Jerman.

“Gila”, gerutu Addie. Suasana cafe yang sepi membuat semua orang bisa mendengar ucapannya. Si pembicara melanjutkan.

“Bavaria adalah komunitas yang berbeda. Warga Bavaria adalah warga paling dominan di Jerman. Pemisahan ini pasti akan…..”.

“Kita semua adalah orang Jerman”, potong Addie kesal.

“Secara kultural, ya. Kita memang punya persamaan”, jawab si pembicara dengan tenang. “Tetapi meski demikian……….”

“Dan komunitas Jerman lainnya kita biarkan hancur?” Kembali Addie memotong.

“Anak Muda…..”, sahut si pembicara. “Saya sedang membicarakan realita, bukan dongeng”.

“Dan saya sedang membicarakan darah murni bangsa Jerman yang saya banggakan. Itu bukan cerita dongeng!” Addie berdiri dengan marah dan pergi meninggalkan cafe tersebut. Anton Drexler yang menyimak perdebatan tersebut, menyuruh seseorang mencari tahu lebih banyak tentang Addie.

***

Addie menyampaikan berkas laporan hasil pemantauannya pada sang atasan.

“Apa ini?”, tanya sang Letnan. “Panjang sekali. Saya hanya meminta laporan singkatnya”.

“Mereka meminta saya untuk bergabung, Pak. Tetapi saya belum memutuskan”, ujar Addie memberikan laporan.

“Kita pikirkan itu nanti”, jawab Letnan Meyer. Tiba-tiba ia mengerutkan kening membaca laporan Addie. “Seorang nasionalis Jerman harus melenyapkan orang Yahudi?” Ia menatap Addie dengan pandangan bertanya. “Mengapa ini ada di laporanmu?”

“Itu hanya pandangan pribadi saya, Pak”, jawab Addie. “Anda tidak setuju, Pak?”

“Ini tidak ada hubungannya dengan tugas yang saya berikan kepadamu”, jawab Letnan.

“Kita bisa deportasi mereka, Pak”, jawab Addie cepat. “Anda bisa bayangkan dunia ini tanpa kaum Yahudi, Pak. Betapa suci dan mulianya dunia ini tanpa orang Yahudi”. Sang Letnan terperangah.

“File saya sudah siap, Meyer?” Kapten Roehm akhirnya membuka suara setelah menyimak pembicaraan tersebut beberapa saat.

“Sudah siap, Kapten”, jawab Letnan Meyer kembali sadar. “Saya ingin memperkenalkan anda dengan Kopral Hitler, Kapten Roehm”, lanjutnya. “Dia adalah salah seorang informan kita di sini”. Addie berdiri tegak dan memberikan hormat.

“Anda boleh pergi, Kopral”, ujar Kapten Roehm. Addie segera berlalu.

***

“Adalah sebuah kehormatan bagi kami untuk memperkenalkan pembicara tamu kita malam ini”, Drexler memulai. “Anda semua mungkin masih ingat komentarnya pada pertemuan kita sebelum ini……. Kita sambut, Adolf…..” Drexler membuka kembali berkas di tangannya. “……Huf…..Hitler”.

Addie berdiri. Malam itu tanggal 16 Oktober 1919, untuk pertama kalinya ia berbicara di depan orang banyak. Ia sedikit gugup.

“Semasa kanak-kanak, saya mendengar cerita….. “, ia memulai.

“Lebih keras suaranya”, ujar Drexler.

“……. saya mendengar cerita tentang tanah yang suci”, lanjut Addie lebih lantang. “Yang hanya bisa ditemukan oleh orang-orang berhati suci..Kita memang memiliki sejarah yang suci di negeri ini. Dan kita juga berjuang menghadapi masa-masa sulit. Militer kita goyah, ekonomi kita jatuh. Tetapi bukanlah kemiskinan yang merupakan kelemahan kita, melainkan perbedaan……” Addie berhenti sejenak. Para pengunjung kafe tidak ada yang menghiraukan pidatonya. Mereka minum dan bercakap-cakap dengan teman masing-masing.

“APAKAH KALIAN TIDAK MENDENGARKAN??”, bentak Addie kepada seluruh hadirin. Para pengunjung terdiam dan semua mata tertuju pada Addie.

“Ini adalah masalah kita semua. Tapi tak satupun di antara kalian yang peduli. Pantas saja kita jatuh ke dalam jurang”.

Perlahan tapi pasti, nama Addie sebagai orator handal mulai dikenal banyak orang. Pendukung Partai Buruh semakin bertambah. Mereka datang berbondong-bondong ke pertemuan Partai Buruh untuk mendengarkan pidato Addie yang berapi-api.

“Bukan bangsa Inggris atau Perancis yang merupakan musuh kita. Musuh kita yang sebenarnya ada di tengah-tengah kita. Dan mereka telah menguasai kita semua…!!!”.

Para pengunjung mengangguk, bertepuk tangan dan bersorak, setiap kali Addie berhenti untuk menarik napas. Seorang jurnalis muda yang baru menikah, Fritz Gerlich, ada di antara para pengunjung. Ia memberitakan perkembangan Partai Buruh Jerman yang sangat pesat dibandingkan partai lainnya. “Mereka memiliki seorang motivator yang luar biasa bernama Adolf Hitler”, demikian tulisnya.

“Siapa yang harus bertanggungjawab atas kehancuran negara kita? Siapa yang telah merusak fondasi bangsa ini?”, tanya Addie pada pertemuan Partai Buruh lainnya.

“Orang Yahudi….!!”, teriak seseorang sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Ya..!”, kata Addie disambut dengan tepuk tangan dan suara riuh rendah. “Mereka tidak diinginkan. Mereka tidak dibutuhkan di sini. Saat ini kita ada di tengah perang untuk mempertahankan Jerman. Kita harus menghabisi mereka…..”. Para pengunjung bergemuruh dan mengepalkan tinju mereka ke udara.

(go to next chapter)

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s