Pedang Allah yang Terhunus

Saifullah #1

Saifullah

Saifullah al Maslul

Dalam sejarah kemiliteran dunia, namanya tercatat di tempat teratas bersama Alexander the Great (356 – 323 SM), sebagai Jenderal yang tak terkalahkan sepanjang kariernya.

Pada tanggal 11 Maret 625 Masehi, pasukan Quraisy berangkat dari Mekkah menuju Medinah untuk menggempur kaum Muslimin dan membalas kekalahan mereka pada Perang Badar (624 M). Pertempuran terjadi pada tanggal 19 Maret 625 M ( 3 Syawal 3 H) di lembah bukit Uhud dan terkenal dengan sebutan Perang Uhud.

Pada pertempuran ini, pasukan Muslim yang jumlahnya lebih sedikit, berhasil memukul mundur pasukan Quraisy. Ini karena pasukan Muslim mengambil posisi di puncak bukit Uhud, sehingga bisa dengan leluasa menghujani pasukan Quraisy dengan panah. Pasukan Quraisy pergi meninggalkan tenda-tenda mereka yang berisi perbekalan dan berbagai perlengkapan perang yang sangat berharga. Satu demi satu anggota pasukan pemanah muslim turun untuk menjarah perlengkapan yang ditinggalkan pasukan Quraisy. Rasulullah berseru memerintahkan para pemanah untuk kembali ke pos masing-masing, tetapi tidak digubris.

Dan tiba-tiba, pasukan Quraisy muncul kembali dan langsung menyerbu pasukan Muslim dan merebut puncak bukit Uhud. Pasukan Muslim yang tidak siap menerima serangan tersebut akhirnya kocar-kacir dan kembali ke Medinah. Banyak korban berjatuhan di pihak kaum Muslimin. Rasulullah-pun terluka parah.

mt Uhud

Bukit Uhud

Pasukan Quraisy kembali dan disambut sebagai pahlawan oleh masyarakat kota Mekkah. Kemenangan ini adalah bukti shahih atas kecerdikan dan kepiawaian panglima perang baru mereka, Khalid bin Walid.

***

Ayahnya bernama Walid ibnu al Mughirah, seorang tokoh terpandang kalangan Quraisy yang berasal dari klan Banu Makhzum. Walid adalah seorang saudagar kaya raya yang memiliki usaha di berbagai bidang.

Sudah menjadi kebiasaannya sejak lama, bahkan sebelum diturunkannya Islam, untuk mengganti kain penutup Ka’bah peninggalan Nabi Ibrahim, secara rutin. Tetapi dia menolak keberadaan Islam, walaupun dia menyukai ayat-ayat suci Alqur’an. Status dan ego-nya sebagai tetua masyarakat, sebagai orang yang dianggap berpengetahuan luas, membuatnya tidak bisa menerima agama baru yang diajarkan ‘anak kemarin sore’ bernama Muhammad ini. Alqur’an adalah kalimat-kalimat sihir yang membuat pembacanya terlena, demikian katanya.

Walid memiliki banyak anak. Salah seorang di antaranya bernama Khalid. Seorang pemuda bertubuh tinggi besar yang senang berkelahi. Suatu ketika ia terlibat perkelahian dengan saudara sepupunya sendiri yang juga bertubuh tinggi besar bernama Umar bin Khattab. Perkelahian berakhir dengan patahnya kaki Umar. Beruntunglah Umar, karena tabib pada zaman itu sudah mampu menyembuhkan tulang yang patah.

Khalid, yang dilahirkan pada 592 Masehi ini memiliki keinginan untuk menjadi laki-laki terhormat seperti ayahnya. Tetapi ia tidak suka ilmu perdagangan. Ia tahu, masyarakat kota Mekkah mengaguminya sebagai petarung hebat. Jadi ia mengasah dan menambah pengetahuannya dalam hal pertarungan. Ia belajar menggunakan berbagai macam senjata, dan mulai mempelajari strategi perang.

Seperti halnya sang ayah, Khalid juga tidak menyukai keberadaan agama Islam yang disyiarkan Muhammad. Saat Islam diturunkan, Khalid baru berusia 17 tahun.

Kematian paman Muhammad yang sangat disegani penduduk Mekkah, Abu Thalib pada tahun 619 M, membuat kaum Quaraisy semakin berani melakukan tindak kekerasan terhadap Muhammad dan para pengikutnya. Akhirnya pada tahun 622 M, rombongan Muhammad hijrah ke Medinah. Ini adalah awal perjalanan Rasulullah sebagai pemimpin besar dan awal dituliskannya penanggalan Hijriyah.

Khalid tidak ikut andil pada Perang Badar, perang besar pertama antara kaum Quraisy Mekkah dan komunitas baru Muslim Medinah. Dilihat dari sudut pandang kaum Quraisy, Perang Badar adalah sebuah perang yang aneh dan misterius.

Pada tanggal 13 Maret 624 M (17 Ramadhan 2 H), kedua kubu bertemu di wilayah Badar. Sebelum perang dimulai, masing-masing kubu mengirimkan tiga orang wakilnya ke tengah arena untuk berduel. Hamzah berhasil membunuh Utbah, Ali berhasil membunuh Walid bin Utbah. Dan Abu Ubaidah, walaupun sempat dilukai terlebih dahulu, akhirnya berhasil membunuh Shaybah. Kemudian setelah beradu panah, akhirnya pasukan Muslim menyerbu terlebih dahulu, walaupun jumlah mereka lebih sedikit.

Pasukan Quraisy melihat seolah-olah pasukan Muslim tiba-tiba bertambah banyak melebihi jumlah pasukan Quraisy. Hal itu membuat pasukan Quraisy lari terbirit-birit kembali ke Mekkah..Sejumlah tokoh terkemuka Quraisy tewas dalam pertempuran ini. Di antaranya adalah, Amir bin Hisyam, atau lebih kita kenal sebagai Abu Jahal, dan Abu Umayyah, yang sangat dibenci oleh mantan budaknya, Bilal. Konon kabarnya, ribuan malaikat turun dari langit dan menampakkan diri kepada pihak Quraisy sebagai bagian dari pasukan Muslim.

Pasukan Muslim berhasil menangkap sejumlah pemuka Quraisy Mekkah. Umar bin Khattab, yang tidak ingin direpotkan keberadaan para tawanan, menginginkan agar semua tawanan dieksekusi mati. Abu Bakar tidak setuju. Dan Rasulullah sependapat dengan Abu Bakar.

battle of badr

Perang Badar

Sebagian tawanan akhirnya dibebaskan oleh kaum Muslimin, karena mereka bersedia masuk Islam secara sukarela. Sebagian lagi dibebaskan setelah keluarga mereka datang membawa upeti sebagai tebusan. Khalid dan kakaknya Hasyam bin Walid datang untuk menjemput kakak tertua mereka, Walid bin Walid dengan membawa upeti. Tetapi setelah pulang ke Mekkah, Walid bin Walid akhirnya kembali ke Medinah secara diam-diam dan memeluk agama Islam.

***

Kemenangan pada Perang Uhud, memicu semangat pasukan Quraisy untuk memberantas habis kaum Muslimin yang ada di Medinah. Pada tahun 627 M, 10.000 pasukan Quraisy berangkat ke Medinah di bawah pimpinan Khalid bin Walid.

Di Medinah, kaum Muslimin mempersiapkan diri dengan membangun parit-parit yang lebar yang memutuskan jalan yang menghubungkan kota Mekkah dan Medinah. Di dalam parit, pasukan Muslim yang cuma berjumlah 3000 orang menunggu kedatangan pasukan Quraisy. Perang terjadi pada tanggal 31 Maret 627 M dan dikenal dengan sebutan Perang Parit.

Pada perang ini, pasukan Quraisy tidak berhasil menembus masuk ke kota Medinah. Ini karena parit besar yang dijaga pasukan Muslim tidak bisa dilewati pasukan kavaleri Quraisy. Pasukan Muslim bertahan total, sementara pasukan Quraisy kebingungan mencari jalan untuk menyerang. Perang terhenti. Kondisi moral pasukan Quraisy semakin menurun akibat cuaca yang tidak bersahabat dan berkurangnya suplai makanan.

Battle of Trench

Parit (trench) di sekitar Medinah

Akhirnya pasukan Quraisy kembali ke Mekkah membawa kegagalan. Sementara pasukan Muslim justru semakin memperluas wilayah kekuasaan di luar kota Medinah, karena banyak suku yang menyerah tanpa syarat kepada kaum Muslimin.

Pada tahun 628 M, Rasulullah berangkat ke Mekkah bersama 1400 orang pasukan Muslim. Rasulullah datang untuk menawarkan perjanjian damai, dengan harapan dapat melaksanakan umrah di Mekkah secara rutin. Kaum Quraisy yang sudah mulai mengakui kekuatan militer kaum Muslimin, tidak berani lagi bertindak gegabah. Mereka bersedia berunding dan menegosiasikan sejumlah isyu penting.

Perundingan ini berhasil mencapai kata sepakat. Gencatan senjata akan berlangsung selama 10 tahun. Setiap tahunnya, kaum Muslimin diizinkan untuk memasuki kota Mekkah selama tiga hari untuk melaksanakan Thawaf, tetapi tidak boleh membawa senjata. Dalam 10 tahun tersebut, setiap orang Quraisy yang ingin bergabung dengan kaum Muslimin, akan diperbolehkan. Demikian juga jika ada orang Muslim yang ingin kembali bergabung dengan kaum Quraisy, akan diperbolehkan. Perjanjian ini dikenal dengan sebutan Perjanjian Hudaibiyyah.

***

Dalam masa damai, Rasulullah berkata kepada Walid bin Walid. “Orang seperti Khalid, tidak bisa selamanya jauh dari Islam”. Walid lalu menulis surat kepada adiknya, Khalid, dan membujuknya untuk segera masuk Islam.

Hingga akhir hayatnya, Khalid bin Walid tidak pernah terkalahkan dalam berbagai pertempuran. Baik itu perang besar, perang kecil atau duel. Dan dia sudah terlibat dalam 100 pertempuran.

Khalid, yang selama ini ternyata banyak bertukar pikiran tentang Islam dengan teman masa kecilnya, Ikrimah ibnu Abi Jahal, memperkuat tekadnya untuk bergabung dengan Rasulullah di Medinah. Abu Sofyan sempat mendatangi Khalid dan mengatakan bahwa sanksi berat akan diterima Khalid dari kaum Quraisy, jika tetap berniat masuk Islam.

“Sabar… hai, Abu Sofyan”, demikian Ikrimah menengahi. “Ancamanmu itu bisa membuatku ikut dengan Khalid masuk Islam. Sesuai perjanjian Hudaibiyyah, Khalid berhak bergabung dengan agama apapun yang dia inginkan…”.

Bulan Mei 629 M, Khalid berangkat ke Medinah untuk bergabung dengan kaum Muslimin. Ia tiba di Medinah tanggal 31 Mei disambut rasa suka cita sang kakak, Walid bin Walid yang langsung memeluknya. Di rumah Rasulullah, ia mengucapkan dua kalimat Syahadat.

***

Beberapa bulan kemudian, Rasululah mengirimkan utusan ke Kerajaan Ghassanid yang menguasai wilayah Syria. Utusan tersebut membawa surat dari Rasulullah yang berisi ajakan untuk masuk Islam. Sayangnya utusan tersebut ditangkap dan dibunuh di wilayah perbatasan Syria.

Kabar pembunuhan ini sampai ke Medinah. Rasulullah lalu mengirimkan pasukan yang dipimpin Said bin Harisyah ke Syria. Dalam pertempuran yang kemudian dikenal dengan nama Perang Mu’tah ini, Said tewas. Secara otomatis, Jaffar bin Abi Thalib menggantikannya. Gempuran tanpa henti yang dilakukan pasukan Kerajaan Ghassanid dan sekutunya, Kekaisaran Byzantium Roma, menewaskan Jaffar. Secara otomatis Abdullah bin Rawahah menggantikannya. Tetapi serangan bagai air bah dari para penguasa Syria ini menyebabkan Abdullah menemui ajalnya.

Tidak ada panglima keempat yang dipersiapkan Rasulullah untuk menggantikan Abdullah. Pasukan Muslim berunding untuk memilih siapa di antara mereka yang layak menjadi panglima. Pilihan jatuh kepada Khalid bin Walid. Khalid menolak dengan alasan bahwa sebagai mualaf, ia tak layak memimpin pasukan Muslim. Tetapi pasukan Muslim bersuara bulat. Tak ada orang yang lebih layak memimpin pasukan Muslim selain Khalid yang Hebat. Tanpa banyak bicara lagi, Khalid menarik tali kekang kudanya dan maju ke medan laga.

Pasukan Muslim terdesak, karena jumlah pasukan Byzantine yang sangat banyak dan tak ada habisnya. Khalid akhirnya berfikir untuk mundur dan menyelamatkan pasukan sebanyak 3000 orang.

Menjelang malam, Khalid membagi pasukan di belakang pasukan utama. Pagi harinya, rombongan-rombongan kecil pasukan tersebut diperintahkan untuk kembali bergabung dengan pasukan utama satu demi satu. Ini menimbulkan kesan seolah-olah sejumlah pasukan baru telah bergabung dengan pasukan sebelumnya sehingga pasukan Muslim kembali menjadi kuat dan siap untuk bertempur. Hal ini dilakukan untuk menjatuhkan moral pasukan Byzantine sehingga mereka menahan diri dan tidak melancarkan gelombang serangan berikutnya. Strategi ini berhasil. Saat pasukan Byzantium mengira pasukan Muslim sedang merapatkan barisan, Khalid membawa pasukannya bergerak mundur kembali ke Jazirah Arab pada malam berikutnya. Pasukan Byzantine tidak mengikuti, karena mereka mengira ada banyak jebakan telah disiapkan oleh pasukan Muslim untuk mereka. Khalid berhasil membawa pasukannya pulang ke Medinah.

Byzantine Empire

Sisa Peninggalan Kekaisaran Byzantium di Mu’tah, Yordania

Dalam pertarungan Mu’tah tersebut, konon Khalid melakukan perlawanan yang luar biasa terhadap pasukan Byzantium sehingga sembilan buah pedangnya patah. Tetapi ia sendiri tidak mengalami luka yang berarti dan dapat kembali ke Medinah dengan gagah. Tiga panglima dan sembilan pejuang Muslim tewas dalam perang Mu’tah, sementara ribuan prajurit Byzantium Roma dan Ghassanid tewas di tangan pasukan Muslim. Atas semangat juang dan keberhasilan Khalid membawa pulang pasukan, Rasulullah memberinya gelar Saifullah al Maslul, Pedang Allah yang Terhunus.

***

Dua buah suku yang selalu bertikai di Jazirah Arab, Bani Khuzah dan Bani Bakrah, akhirnya memilih untuk bergabung dengan dua kubu besar yang sedang melakukan gencatan senjata selama 10 tahun. Bani Khuzah bergabung dengan Muslim Medinah, sementara Bani Bakrah bergabung dengan Quraisy Mekkah.

Sebagai sekutu dari kaum Muslimin dan Quraisy, berarti Bani Khuzah dan Bani Bakrah juga terikat aturan yang berlaku pada Perjanjian Hudaibiyyah. Sayangnya percikan demi percikan selalu saja terjadi di antara kedua suku tersebut. Pada bulan Sha’ ban 8 H, Bani Bakrah membantai habis Bani Khuzah dengan bantuan senjata dan personel dari kaum Quraisy.

Rasulullah yang mendengar peristiwa pembantaian ini, langsung mempersiapkan pasukan untuk menyerbu Mekkah. Abu Sofyan, pemimpin kota Mekkah, menyadari bahwa pasukan Quraisy saat ini tak mungkin mampu menahan serangan pasukan Muslim. Ia bergegas ke Medinah menemui Rasulullah untuk bernegosiasi.

Rasulullah menolak semua tawaran damai dari Abu Sofyan dan mempersiapkan 10.000 personel untuk berangkat ke Mekkah. Di malam menjelang penyerbuan tahun 630 M, Abu Sofyan menyatakan dirinya masuk Islam.

Rasulullah membagi pasukan menjadi 4 rombongan, yang kemudian memasuki Mekkah melalui 4 jalur yang berbeda. Khalid memimpin salah satu rombongan yang siap menghancurkan kaum Quraisy yang pernah memujanya selama bertahun-tahun. Tidak ada perlawanan dari masyarakat kota Mekkah. Rasulullah berhenti di depan Ka’bah dan pasukan Muslim segera menghancurkan semua patung yang ada di dekat Ka’bah. Sambil menyebut nama Allah, Rasulullah berbalik menatap kaum Quraisy yang tertunduk memohon belas kasihan.

“Apa yang sebaiknya aku lakukan terhadap kalian, wahai orang-orang Quraisy?” tanya Rasulullah dengan lantang.

Conquest of Mecca

Pasukan Muslim menembus kota Mekkah tanpa perlawanan

“Mohon ampun, ya Rasulullah. Kami berharap engkau memperlakukan kami secara baik-baik”, jawab masyarakat Quraisy. Sepuluh orang Quraisy dipersiapkan untuk menjalani hukuman mati. Tetapi atas masukan Khalid dan Abu Sofyan, Ikrimah bin Abi Jahal batal menjalani eksekusi dan pada akhirnya bergabung dengan pasukan Muslim.

Ekspansi Islam berlanjut dengan penaklukkan terhadap sekutu Quraisy seperti Hawazin, Thaqif, Bedouin dan lain-lain. Masih di tahun yang sama, Rasulullah mengirimkan 30.000 pasukan ke Semenanjung Arab untuk kembali menghadapi pasukan Byzantium. Rumor mengatakan bahwa Hierakles tengah mempersiapkan 100.000 pasukan untuk melenyapkan umat Islam agar berhenti berkembang.

Rasulullah mengirimkan pasukannya ke wilayah Tabuk dan menunggu pasukan Byzantium di sana. Pasukan Byzantium tak pernah sampai ke Tabuk. Tetapi suku-suku kecil yang mendiami wilayah Tabuk akhirnya masuk Islam dan melepaskan diri dari sekutu mereka, Byzantium Roma. Pada akhirnya, seluruh Jazirah Arab ada di bawah kendali Rasulullah saw.

Setelah Rasulullah wafat pada 632 M, sejumlah suku-suku besar di Jazirah Arab berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Muslim. Khalifah Abu Bakar Siddiq mengirim pasukan di bawah pimpinan Khalid bin Walid untuk menetralisir pemberontakan di Jazirah Arab. Dimulai dari Tulaiha, Ghamra, Naqra, Zafar dan lain-lain. Khalid berhasil melaksanakan tugasnya tanpa kesulitan.

***

Musailimah adalah pemberontak terkuat di wilayah Yamamah. Ia mengaku sebagai rasul yang baru setelah Muhammad. Sementara Khalid menetralisir berbagai pemberontakan di wilayah lainnya, Khalifah Abu Bakar mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Ikrimah bin Abi Jahal untuk membuka kontak dengan Musailimah. Abu Bakar memberi penekanan kepada Ikrimah agar tidak memulai serangan.

Ikrimah membangun kamp di sebuah lokasi yang tersembunyi di Yamamah dan menunggu perintah selanjutnya dari Khalifah. Ia mendengar berita kesuksesan Khalid di Tulaiha dan itu membuatnya terobsesi untuk menyerang Musailimah.

Lalu Ikrimah mendapat kabar bahwa Khalifah telah mengirim sejumlah pasukan lagi dibawah pimpinan Shurahbil untuk bergabung dengannya di Yamamah. Sebelum Shurahbil tiba, kembali Ikrimah mendapat kabar kesuksesan Khalid menetralisir pemberontak lainnya. Ia semakin tak sabar. Pada tanggal 31 Oktober 632 M (Rajab 11 H), Ikrimah membuka serangan terhadap Musailimah.

Ikrimah kalah, lalu mengirimkan utusan kepada Khalifah untuk mengabarkan kekalahannya dan kesiapannya untuk bertanggungjawab penuh karena telah melanggar perintah. Abu Bakar marah, lalu memerintahkan Ikrimah dan pasukannya untuk segera berangkat ke Mahra dan Yaman untuk membantu pasukan Muslim yang sedang menetralisir pemberontakan di sana.

Lalu Abu Bakar mengirimkan surat perintah kepada Shurahbil agar menunggu perintah selanjutnya dan tidak melakukan tindakan apapun. Surat perintah itu tidak diindahkan oleh Shurahbil. Ia juga tergoda untuk merasakan kemenangan sebagai pemimpin pasukan. Ia menyerang Musailimah dan Musailimah meluluhlantakkan pasukannya.

Akhirnya Abu Bakar mengirim Khalid ke Yamamah, setelah Khalid menyelesaikan tugasnya di tempat lain. Musailimah menunggunya di padang Aqraba, bersama 40.000 tentaranya.

Pertempuran berjalan berimbang. Hingga malam tiba, saat pertempuran harus dihentikan, tidak ada tanda-tanda kekalahan di salah satu pihak. Khalid tahu bahwa ia harus membunuh Sang Nabi, Musailimah, untuk dapat meruntuhkan moral pasukan pemberontak Yamamah. Tetapi Musailimah selalu berada di belakang pasukannya. Di kelilingi prajurit-prajurit yang siap mati untuknya.

Khalid maju seorang diri ke tengah lapangan dan menantang duel siapa saja dari pasukan pemberontak. Satu demi satu prajurit pemberontak tewas di tangan Khalid hingga akhirnya Khalid berhadapan langsung dengan Musailimah. Keduanya terlibat duel yang sengit. Pertarungan antara Sang Nabi melawan Sang Panglima ternyata meruntuhkan moral pasukan pemberontak. Khalid menyadarinya dan memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan pertempuran. Pasukan pemberontak tercerai berai. Musailimah dan 7000 sisa pasukannya terpojok di sebuah taman. Ia menolak untuk menyerah dan pasukanĀ  Khalid pun menghabisinya.

Jazirah Arab

Jazirah Arab

Kabar kematian Musailimah tersebar ke seluruh Jazirah Arab dan menghentikan segala bentuk pemberontakan terhadap Kekhalifahan di Medinah.

www.pondokmaya.com

Iklan

One thought on “Pedang Allah yang Terhunus

  1. mantab neh artikelnya nandobase. salam kenal. Gini saya punya rencana saya mau mengajak nandobase untuk bergabung di http://kampuspanda.wordpress.com/.

    Kampus Panda bukan milik saya pribadi, tetapi milik bersama – sama (semacam komunitas lah). di situ kita nanti ngeblog sama – sama.

    kalau nandobase bersedia silahkan daftar di http://bimkampuspanda.wordpress.com/daftar-anggota-disini/ dan daftar jurnalis di http://bimkampuspanda.wordpress.com/daftar-penulis-di-sini/

    nanti blog kampus panda sebagian dari blog nandobase

    kampus panda merupakan kegiatan sosial

    disana tidak ada bisnis jadi asli kegiatan sosial

    terima kasih

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s