Money Game (part #3)

Langsung dilanjut aja, yaaa……

Suatu ketika saat jam istirahat, saya mendatangi posko teknisi di ground floor. sebuah ruangan yang terletak di area parkir karyawan di bawah gedung, untuk sekedar minum kopi.  Ruangan tersebut walaupun ber AC, tapi pintunya selalu terbuka sehingga tidak sedingin ruangan saya di lantai tiga. Selain itu, posko ini memang satu-satunya ruangan yang temperatur AC-nya boleh di-naik-turun-kan sesuka saya. Setelah ngobrol sejenak dengan para teknisi yang sedang makan, saya  menekan nomor ekstensi seorang supervisor keuangan dan memintanya untuk bergabung di posko.

Beberapa saat kemudian, ia datang. Dan setelah cengar-cengir sejenak, ia pun duduk dan dimulailah pembicaraan kami.

“Pak, anda tau kan kalo bisnis kita ini adalah Money Game yang cuma ‘gali lobang tutup lobang’?”, tanya saya memulai pembicaraan. Ia tergelak sejenak, lalu menjawab. “Iya, betul Pak Nando. Kita ini ngutang untuk bayar utang.”, katanya ringan.

“Tadi saat jalan turun ke sini saya mendengar pembicaraan antara seorang Leader (member awal) di Galeri dengan seorang tamunya. Ia mengatakan bahwa bisnis kita ini bukan Money Game, melainkan bisnis Art Interior. Mengapa begitu, Pak?”, tanya saya lagi sambil menghirup kopi. Ia tertawa lagi. “Pak Nando, kalau kita ngaku bahwa bisnis kita ini Money Game, orang ngga akan mau invest di sini. Dan Departemen Perdagangan juga tidak akan mengizinkan kita menjalankan bisnis ini. Karena kita ini mengumpulkan dana masyarakat, Pak Nando. Sementara yang diizinkan mengumpulkan dana masyarakat di Indonesia hanya perusahaan yang berbentuk Bank atau Asuransi. Selebihnya ngga boleh.”

“Oww…. Berarti perusahaan ini berlandaskan kebohongan dong, Pak. Untuk mendapatkan kepercayaan konsumen, sebuah perusahaan itu kan harus berlandaskan kejujuran.”, lanjut saya.

“Mana ada perusahaan yang jujur di dunia ini, Pak Nando.”, katanya sambil mengangkat kedua tangannya. “Mereka semua akan berbohong jika berurusan dengan pajak. Berbohong saat mulai menyangkut masalah duit, Pak.” Ia menjentikkan jarinya.

“Oke, Pak. Saya ingin membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di sini. Jika suatu saat bisnis kita ini mencapai titik jenuh, di mana terjadi kelesuan di masyarakat sehingga mereka berhenti berinvestasi di sini. Apa yang terjadi? Itu berarti para member terbaru tidak akan mendapatkan uangnya kembali, kan?”

“Itu tidak akan terjadi, Pak Nando.”, ia tersenyum. “Dengan melihat banyaknya para Leader yang sukses dan menjadi kaya setelah berinvestasi di sini, semua orang akan berlomba-lomba untuk menanamkan uangnya di sini. Bahkan orang yang sedang bokek atau orang miskin-pun, akan berusaha mencari pinjaman untuk ditanamkan di sini, karena semua orang itu pingin cepet kaya, Pak Nando. Titik jenuh itu hanya akan terjadi jika semua orang di dunia ini sudah menjadi member kita. Mungkin sekitar 20 tahun lagi atau lebih, itu baru terjadi. Tenang aja, Pak. Anda belom jadi member, ya?”, tanyanya. Saya menggeleng.

“Seharusnya anda juga jadi member. Lumayan lho Pak, biarpun cuma ngambil beberapa paket doang seperti saya. Tapi sekarang karyawan udah ngga boleh ikut lagi sih. Dulu waktu masih di Red Top, seharusnya anda ikut.” Saya tidak menjawab. Saya hanya membayangkan jika saya ikut bermain di sini, lalu mengajak keluarga dan teman saya, dan mereka mengajak para kenalan mereka. Ratusan atau mungkin ribuan downline ada di bawah saya, tiba-tiba perusahaan collapse  dan ribuan downline tersebut mengejar saya dan keluarga saya. Saya menggeleng tanpa sadar.

“Tidak sampai 20 tahun, Pak. Mungkin tidak sampai 5 tahun.” Sahut saya. Ia terbahak.

“Dua puluh tahun itu minimal, Pak Nando. Mungkin lebih…. Saat itu rasanya kita sudah tidak di sini lagi. Ayo naik, Pak. Udah hampir jam 1.” Saya berdiri dan mengikutinya. Saya mulai berpikir untuk menulis surat lamaran pekerjaan yang baru.

———-

Beberapa bulan kemudian saya mendengar berita di televisi tentang sebuah perusahaan Money Game yang ditinggal kabur dirut-nya. Perusahaan ini berkamuflase sebagai supplier alat pertanian beserta benih dan pupuknya. Para membernya berkumpul dengan wajah bingung saat diwawancarai. Berita tersebut menjadi topik hangat di kantor. Iyalah, karena bisnisnya sangat mirip dengan bisnis kami. Yang beda cuma produk kamuflasenya. Jumlah setorannya mungkin juga beda.

Tapi saya tidak mengira bahwa berita tersebut akan menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekedar topik hangat. Berita tersebut telah membuat sejumlah member yang ingin membeli paket baru dan para calon member yang siap mendaftar akhirnya menahan diri. Sebagian dari mereka berhenti menanamkan uangnya di kantor kami dan menunggu perkembangan selanjutnya. Kondisi ini tidak boleh terjadi. Divisi Marketing diminta untuk bekerja lebih keras untuk membujuk para member yang menahan diri tersebut. Presdir kami, yang juga owner perusahaan, akhirnya turun tangan dan mengatakan kalau ia tidak akan lari ke mana-mana.

Cara ini kurang berhasil. Hanya sedikit member yang bersedia melanjutkan investasi. Bagi perusahaan kami, ini sama artinya dengan gagal, karena kami harus mampu meraup uang 3 kali lipat dari tahun sebelumnya, seperti yang sudah saya jelaskan pada bagian 2. Para Upliners mulai panik karena ditekan oleh downliners yang tidak lagi menerima pembayaran

Lalu diadakanlah Meeting darurat antara dewan direksi dan para Leader. Meeting ini menghasilkan kesepakatan untuk membuat program baru yang lebih menarik. Maap, saya lupa programnya seperti apa, tapi yang jelas, tetap tidak berhasil.

Mulai banyak member yang datang sambil marah-marah dan merepotkan sekuriti kami, mulai bermunculan tuntutan hukum terhadap kantor kami. Seorang member pernah menodongkan pistol ke kepala seorang sekuriti kami, sementara member lainnya mendatangkan sejumlah orang berseragam hitam untuk menutup kantor kami.

Bukan hanya kami yang kerepotan, Sobat. Para member yang sudah kaya pun ikut kerepotan. Mereka dituntut untuk menjual mobil dan rumah mereka oleh downliners. Seorang ibu yang sehari-hari mengurus dapur dan anak-anaknya, dan tidak pernah terlibat kejahatan apapun, akhirnya harus merasakan sel tahanan selama 3 hari. Ia menangis di kantor kami karena merasa malu. Seorang adik akhirnya bermusuhan dengan kakaknya karena merasa telah dijerumuskan. Sepasang suami istri akhirnya bercerai.

Itulah Sobat, sejumlah efek berantai yang terjadi saat perusahaan Money Game mengalami stagnansi. Kalau sudah seperti itu, tidak ada lagi member baru yang bisa didapat. Dan member lama pun menolak untuk melanjutkan investasi.

Kurangnya pemasukan membuat perusahaan memotong gaji karyawan termasuk saya hingga 50%.  Karena beban pekerjaan juga mulai berkurang, saya mulai sering mencuri waktu di siang hari untuk membangun sebuah warnet di kawasan Cempaka Putih bersama seorang teman lama. Hingga akhirnya saya mengundurkan diri dengan gaji yang tertunggak selama beberapa bulan. Tapi akhirnya gaji saya dilunasi 3 bulan kenudian. Ya dilunasi, tapi terpotong 50%.🙂

Begitulah akhir ceritanya.  Terakhir saya mendengar, Presdir kantor saya akhirnya masuk penjara.

Satu hal perlu anda ingat, bahwa perusahaan Money Game itu tidak akan pernah mengaku sebagai Money Game. Mereka akan mengaku sebagai perusahaan jenis lain dengan berbagai alasannya. Karenanya berhati-hatilah.🙂

Oke, sampai di sini dulu, ya… Selamat menikmati liburan……..😀

Tulisan Terkait;

Money Game (part #2)

31 thoughts on “Money Game (part #3)

  1. saya sih lebih merasa, ada bisnis tanpa kerja keras yang banyak dengan untung yang bahkan berkali2 lipat tanpa bisa dinalar dengan baik oleh otak, hati merasa ada yang tidak beres, ditinggalkan saja.

    pengalaman ikut money game juga pernah saya alami, ya syukur deh sekarang saya sudah keluar, belum mencicipi apa itu tingkat leader. syukur juga karena gak ikut bohongin orang lain.

  2. oh, begitu ya…
    Tindakan yang cerdas, Mas Nando, tidak mengikuti sesuatu yang salah (1), dan mencari jalan keluar dengan buka warnet sebelum betul-betul habis (2)…
    Saya jadi penasaran, perusahaan Money Game di sekitar saya ada tidak ya?
    Nice posting…

  3. Wah, cerita yang sangat menarik! Dari “dalam”-nya langsung, hmmm.

    Masalah uang memang masalah yang sangat sensitif. Sepertinya banyak yang terjerumus dengan iming-iming uang yang berlipat dengan mudahnya; tetapi kurang jeli dengan mengabaikan pertanyaan “kok bisa?” dan fokus pada (iming-iming) “hasil”-nya saja. Kalau masalah keributan itu sih, ya, itulah jahatnya uang. Makanya kita harus berhati-hati banget dan jangan sampai mengagungkan uang, hmmm…

  4. Seperti dugaan saya kan mas Nando…efek berantai itu hanya ada dalam rumus matematika dan fisika…tidak salah…!! tapi kalau diterapkan dalam konsep money game…wow lihat akibatnya mengerikan…sejujurnya beberapa kerabat saya pun pernah terlibat dan bahkan menjadi aktor owner bisnis model begini…di keluarga hanya saya yang menolak keras bisnis ini….yang tentunya silaturahim keluarga menjadi ternodai dan nama baik keluarga besar menjadi tercoreng. Mudah2an kita yang selalu sadar akan kemilau uang jangan berharap hidup instan, berdagang yang halal saja mas Nando….

    salam
    blognoerhikmat

    • @Hanif Mahaldi, memang seharusnya nalar kita dipake, Mas. Tapi untuk urusan duit, biasanya godaan setan itu lebih kuat.🙂 Member kami itu rata-rata bukan orang bodoh, koq. Ada pakar IT, pengusaha sukses, pengusaha asing, bahkan mantan boss saya di kantor yang lama-pun ikut menjadi member. Entah mengapa nalar mereka tidak bekerja saat memutuskan untuk menjadi member kami.
      @Falzart Plain, tengkyu Dok.🙂
      @zilko, begitulah uang… Bisa membuat orang cerdas jadi bodoh. Hehehe….
      @Budi Nurhikmat, wow, bagaimana sekarang kabar saudaranya yang jadi owner bisnis Money Game, Mas Budi?
      @Anas, baca lagi bagian kedua-nya, yaa…..🙂
      @Asop, Ada lagunya: ‘No Money No-dong’. Hehehehe……

  5. MOney game, MLM tampaknya sama saja ya? saya pernah ngalamin ikut mas yang sejenis gitu, sampai sekarang nama saya “rusak” untuk urusan bisnis, padahal saya tidak tau apa-apa malah sama-sama jadi korban. Nice articel mas

    • @bensdoing, tengkyu Mas Budi…
      @Dhenok, pernah ikut MLM ya? Tenang aja Dhe… MLM murni sih tidak berbahaya.🙂
      @Erwin, Heh? Kotak spamku kosong koq. Komentar yang dipostingan apa, Mbak Erwin?

    • @shireishou, begitu lebih baik.🙂
      @Faisal, hehehe… saya ngga ada cutinyaaa….
      @Una, hat-hati aja ya, Una. Money Game itu kayak lingkaran setan. Udah masuk susah keluar.
      @Ely Meyer, begitulah…..🙂

  6. huaaaaaaaa +___+
    pelajaran yang sangat berharga.. tapi kan gak ditahu nan gimana cara nyelidiki apakah perusahaan kita money game atau enggak (–__–) kalau lama2 pasti ngerasa ya? gitu?

    • @tuaffi n @Maya, kalo ada orang yang menawarkan investasi dengan sistem piramid dan keuntungan yang bikin melongo, itu pasti Money Game.
      @totopalnise, Wakakakaaakaaaak…. asli gw ngakak sendirian kyk org gila baca komen ente.😀😀😀

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s