Jatinegara Hari Ini

tersisih

Mereka hanya duduk diam di pinggir jembatan sementara orang berlalu lalang.

Anak perempuan itu tertidur di pangkuannya. Anak yang cantik….

Mengingatkanku pada anakku sendiri.

Sudahkah ia makan hari ini? Bagaimana dengan kemarin? Sudahkah ia makan kemarin?

Kapan terakhir ia mandi?

Dan bajunya yang tercabik-cabik itu, sudah berapa lama ia mengenakannya?

Pernahkah ia bersekolah? Dan bermain dengan teman-temannya?

Dan siapa yang meringkuk di sebelahnya? Kakak-nyakah? Apakah ia sakit? Atau sedang tertidur?

Di manakah rumah kalian? Atau kampung kalian? Keluarga kalian??

Sampai kapan kalian akan duduk di sana?

Sejuta pertanyaan di dalam benak. Siapa yang seharusnya menampung mereka?

Di mana seharusnya mereka berlindung? Mungkinkah mereka bertahan mengandalkan uang receh dari orang-orang yang berlalu lalang?

Jatinegara, 16 Februari 2012

37 thoughts on “Jatinegara Hari Ini

  1. mendapatkan penghidupan yang layak adalah hak rakyat. negaralah yang berkewajiban. kalau zakat yang hanya 2, 5 persen dan dipungut dari yang mampu saja mampu membawa kemakmuran pada pemerintahan umar abdul aziz. seharusnya pajak yg dikenakan yg melebihi dua koma persen tanpa melihat kaya dan miskin seharusnya rakyat sejahtera luar biasa. namun kenyataan seperti jatinegara banyak betebaran di seluruh plosok negeri.

  2. mendapatkan penghidupan yang layak adalah hak rakyat. negaralah yang berkewajiban. kalau zakat yang hanya 2, 5 persen dan dipungut dari yang kaya saja mampu membawa kemakmuran pada pemerintahan umar abdul aziz. seharusnya pajak yg dikenakan yg melebihi dua koma persen tanpa melihat kaya dan miskin seharusnya rakyat sejahtera luar biasa. namun kenyataan seperti jatinegara banyak betebaran di seluruh plosok negeri.

    • Jika seorang warga negara meninggal karena kelaparan, maka sang pemimpin berdosa atas penderitaannya. Bukan begitu Mbak Mintarsih?
      Malam ini kembali terbayang di pikiran saya; di mana mereka akan tidur? Apakah mereka masih ada di jembatan?

  3. berharap pada negara rasanya keburu orang-orang yang hidup seperti itu mati kelaparan.
    aksi kecil lebih baik dari berharap kosong.
    semoga yang ikut membaca tulisan ini ikut tergugah untuk membantu.
    saya punya kebiasaan membawa makanan kecil untuk diberikan pada anak jalanan, bagi saya memberi makan lebih mendidik dari memberi receh.
    inspiratif

    • Memberikan uang receh juga tidak apa-apa, Citra.🙂 Karena uang receh itu tidak ada basinya dan cukup simpel dibawa. Tetapi masalahnya uang receh atau makanan kecil itu tidak menyelesaikan kesulitan mereka. Mereka butuh penampungan. Butuh orang-orang yang berdedikasi untuk memperhatikan (setidaknya) kebutuhan dasar mereka. Entah ada di mana penampungan tersebut.

      • serba dilematis memang menghadapi permasalahan seperti itu. saya pernah mendengar tentang beberapa rumah singgah yang memeri makan dan pendidikan (baca tulis) dan keterampilan untuk anak jalanan.
        rumah singgah seperti itu membangun diri secara independen. melatih anak-anak itu untuk mandiri dengan kreativitas tanpa harus turun ke jalan lagi. salah satu hasil kreasi mereka yang pernah populer adalah sepatu lukis.
        tidak banyak yang bisa dan mau benar2 concern seperti itu. tapi semoga ini bisa menjadi perhatian kita semua.
        membantu sekecil apapun bentuknya.

  4. saya sering sekali mas lihat yang seperti ini di jatinegara, kemudian di halte trans koridor dua…kasihan…
    cuma bisa kasihan saja..tidak bisa bantu apa-apa…

    • Kalo Tina sering lewat jembatan busway di Jatinegara, Tina pasti pernah ketemu mereka. Saya udah bolak-balik Jatinegara beberapa hari ini dan selalu ketemu mereka. Hmm.. Berasa ngga ya sama mereka kalo sedang kita omongin?

  5. Sbnarnya klw nglaht hal gnian, saya agk mudah trenyuh🙂 mreka brusaha hidup dikota wlaupun dgn keadaan demikian, buat apa??? Apakh hanya skdar ingin menyaksikan suasana kota???
    Aahh…,,,😦
    Saya brsukur msh bsa hdup dikampung, krna pemandangan diatas gk akn kita temukan,,
    Walaupun utk hiburan kami hnya bsa nnton tv dirumah🙂

  6. Dalam UUD 45 Pasal 34 menyebutkan “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”.

    Namun saat ini negara sedang sibuk dengan masalahnya sendiri: cuci duit, mengamankan kuris untuk 2014 nanti, perkaya diri, sibuk mencari alibi dll. Akibatnya tugas2 negara atau kewajiban negara terhadap rakyatnya jadi terbengkalai.

    Salah siapa?

  7. PAsal 34 ayat 1 : Fakir miskin dan anak-anakyang terlantar dipelihara oleh negara.
    pasal 31 ayat 1 : Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
    tapi tak pernah saya dapatkan JUGA

  8. memang sangat memprihatinkan negara ini….
    banyak rakyat yang miskin tp para petinggi malah berebut kekuasaan…
    ea klo kekuasaannya di manfaatka dengan benar g masalah…
    lha..nie kekuasaan di manfaatkan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya…
    tnpa melihat nasib rakyatnya….
    *sangat menyedihkan bangsa ini*

  9. Kasihan sekali
    Pemerintah dna masyarakat luas perlu memperhatikan lebih jauh soal mereka sebab mereka pun adalah saudara2 kita yang membutuhkan uluran tangan kita..

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s