Anak yang Berbakti

kembang api

Khusus Lebaran kali ini, kami memilih untuk menghabiskan waktu di Cimangu, Bogor, tempat tinggal kakak ipar, yang tengah dirawat di RS PMI Bogor. Selama tiga hari, kami berlebaran sambil menjaga anak-anak kakak ipar di rumah sambil sesekali mampir ke rumah sakit. Kakak ipar sendiri kondisinya sudah makin membaik. Tangannya sudah bisa digerakkan dan bicaranya mulai normal. Tapi dari pinggang ke bawah masih lumpuh.

Selama di rumah sakit, saya bertemu dengan sosok yang sungguh menarik. Namanya Pak Dede. Usianya sekitar 45 -50 tahun dan tubuhnya kurus.

Pak Dede datang ke rumah sakit menemani pasien seorang wanita tua hanya beberapa jam setelah sholat Ied. Mereka menempati sebuah kamar tepat di sebelah kamar kakak ipar saya. Saya melihatnya pertama kali saat seorang perawat masuk ke kamar pasien tua tersebut untuk melakukan pemeriksaan rutin. Si perawat tidak bisa membangunkan Pak Dede yang tertidur lelap di lantai tepat di sebelah tempat tidur sang pasien. Setelah dibangunkan beberapa orang, akhirnya Pak Dede bangun juga.

“Wah, yang nungguin koq malah ketiduran.”, kata saya sambil tertawa kepada suami kakak ipar yang duduk di sebelah saya.

“Dia belum nikah tuh, Ndo.”, kata suami kakak ipar kepada saya. “Dia sudah haji tapi belum nikah. Dia anak bungsu dari 9 bersaudara, tapi yang tiga sudah meninggal. Dan yang sakit itu ibunya.”

“Kenapa dia belum nikah, A?” tanya saya. Saat itu saya belum tau kalau namanya Pak Dede.

“Entahlah. Kayaknya dia sibuk ngurusin ibunya. Ibunya itu diabetes dan sudah langganan jadi pasien di sini. Di rumahnya, saat ibunya sedang tidak sakit, mereka hanya tinggal berdua. Dia yang ngurus makan ibunya dan lain-lain.”

“Kalau dia sedang bekerja, ibunya siapa yang ngurus?” tanya saya lagi.

“Dia tidak bekerja. Mereka hidup dari uang pensiun almarhum bapaknya.”

Saya mengangguk. Ia tidak bekerja dan tidak menikah. Seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurus ibunya. Butuh kesabaran dan dedikasi yang luar biasa. “Sepertinya Allah sudah menyiapkan tempat untuknya di Surga, A.” kata saya. Si Aa mengangguk. “Aamiiin…..”

Esok harinya saya berkesempatan untuk ngobrol dengannya. Ternyata menjelang bulan Ramadhan kemarin, ibunya baru saja pulang dari rumah sakit ini dan ikut menjalani puasa selama sebulan sebelum akhirnya kembali dirawat setelah Idul Fitri.

“Usia ibu saya 87 tahun, tapi masih sanggup menjalani puasa Ramadhan.” kata Pak Dede kepada saya. “Tetapi walaupun demikian, ternyata gula darahnya kembali naik sehingga harus dirawat lagi.”

“Saya kira, usia setua itu sudah tidak wajib puasa lagi, Pak Dede.” Ujar saya. Pak Dede tersenyum. “Beliau tetap ingin berpuasa.”

Lalu ia bercerita tentang keluarga besarnya. Ternyata ia sebenarnya bukan anak bungsu. Ia menjadi bungsu karena adiknya meninggal setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu. Dan salah seorang kakaknya meninggal beberapa bulan yang lalu akibat serangan jantung yang tiba-tiba.

“Kita tidak pernah tahu sisa waktu kita. Bisa sekarang atau besok. Yang penting kita selalu berusaha mengisinya sebaik yang kita bisa.” katanya. Berbagai petuah ia berikan kepada saya. Ia terlihat normal dan berpikiran jernih. Tidak terlihat kalau ia memiliki beban pikiran. Sepertinya ia memang sudah ikhlas untuk melupakan kebutuhannya sendiri dan berbakti sepenuhnya untuk sang ibu.

‘Anak-anakku sudah tidak ada tapi aku kok masih ada’, begitu kata sang ibu kepada Pak Dede pada suatu kesempatan. Pak Dede memintanya untuk ikhlas dan mendoakan mereka yang telah tiada. Walaupun sakit-sakitan, tapi ibunda Pak Dede berumur lebih panjang dari sebagian anaknya. Selain karena takdir Allah, tentunya itu juga karena kesabaran Pak Dede merawat beliau. Saya yakin ibunda Pak Dede tidak pernah lupa untuk mendoakan putranya itu setiap hari. Sehingga Allah-pun membekalinya dengan kekuatan iman dan kesabaran yang luar biasa. Semoga Allah memang sudah menyiapkan sebuah istana untuknya kelak.

Nando

12 thoughts on “Anak yang Berbakti

  1. Amiiin …
    Sungguh sangat terharu saya sob membacanya …
    Salah satu amalan yg paling disukai sama Allah SWT berbakti terhadap kedua orangtua terutama Ibu.
    Mereka keluarga yg bahagia, dari sisi keimanannya. Karena Ibu mempunyai anak yg sholeh dan Pk Dede juga bisa berbakti dengan Ikhlas …🙂

  2. Sungguh Pak Dede luar biasa,kelak bahagianya akan panjang sampai di Surga.AMIN.

    Buat Ibunya yang sedang dirawat,cepat sembuh ya Bu.AMIN

  3. Waduh bahagia banget ya hati si ibu mempunyai anak seperti Pak Dede, teringat kedua orangtua ane jadinya…! waktu beliau sakit ane acuhkan, waktu mereka pengen ketemu di hari lebaran ane acuhkan juga…..itu ane lakukan karena persaan ane selama ini ane tidak pernah merasakan kasih sayang mereka, Ya Allah semoga pintu maaf selalu engkau bukakan terhadap anak durhaka ini, beda banget sama Pak Dede yang begitu tulus dan ikhlas merawat ibunya……..4 tahun setelah kedua orang tua ane tiada, ane baru merasakan bahwa sejelek dan jahatnya orangtua karena keterbatasan wawasan tetaplah mereka mencintai buah hatinya dengan cara yang kadang-kadang tidak terpikirkan oleh anaknya………saat ini ane hanya bisa berdoa siang dan malam agar Allah membukakan pintu maaf buat ane dan melapangkan jalan kedua orang tua ane………mas nando makasih ya, dah numpang curhat………

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s