Doyok

Baru sebulan kita lewati Idul Fitri. Genderang takbir-pun masih menggema di dalam hati.

Tapi saat kita masih mengirimkan ucapan ‘Maaf Lahir Bathin’ ke sanak famili dan para sahabat di penjuru negeri, darah telah tertumpah. Pembunuhan yang sia-sia telah terjadi.

Fitrah Ramadhani namanya. Mungkin ia dilahirkan di hari terakhir Ramadhan, menjelang Idul Fitri 19 tahun yang lalu. Ia berangkat ke sekolah membawa sebilah celurit. Ia sudah merencanakan niatnya untuk membunuh pada hari itu sepulang sekolah. Dan pikiran itu tidak berubah, hingga Alawy Yusianto Putra terkapar meregang nyawa di jalan dengan luka tusukan celurit di sekujur tubuhnya.

Doyok, begitu panggilan Fitrah di sekolah, tidak mengenal Alawy. Dan Alawy hanya berniat menuntut ilmu di sekolah. Kesalahan Alawy di mata Doyok adalah; ia bersekolah di SMA 6, musuh sekolah Doyok. Dan Alawy harus membayar kesalahan tersebut dengan nyawanya.

Doyok atau Fitrah bukan dari kalangan tak punya. Ayahnya seorang businessman. Dan itu membuat Fitrah terlihat semakin buruk di mata masyarakat. Saya-pun hanya bisa berpikir; Jika ia tidak memiliki masalah ekonomi, tekanan hidup apa yang telah membuatnya frustrasi?

Ini bukan kali pertama ia berulah. Tahun 2011, ia pernah ditahan polisi, juga karena tawuran. Pengacaranya akan menyangkal hal ini dan mengatakan bahwa ini pertama kalinya ia berurusan dengan polisi.

Apa yang ingin dicapainya?

Jika ia ingin membuat semua orang takut padanya, maka ia telah gagal. Semua orang marah padanya dan justru ingin membalas perbuatannya. Ia telah merugikan Alawy dan keluarga almarhum. Ia telah merugikan dirinya sendiri dan masa depannya, dan ia bisa mengganggu bisnis yang tengah dijalankan ayahnya. Seperti kata pepatah, ‘Kalah jadi abu, menang jadi arang’.

Begitulah wahai pelajar Indonesia. Jika kalian pikir tawuran itu adalah jalan menuju kemuliaan, maka kalian salah. Semua cara kekerasan yang digunakan untuk mencapai puncak, hanya bisa terjadi di dalam film yang kalian tonton. Perbanyak relasi dan sahabat, itulah yang kalian butuhkan.

Nando

Referensi:

www.pondokmaya.com

17 thoughts on “Doyok

  1. saya juga ga ngerti Mas, entah apa yang dia pikirin sampe sampe sok ikut tawuran kaya gini dan menyebabkan satu korban jiwa. dari berita yg saya dengar di media, Doyok ini ternyata sampe berkali kali tidak naik kelas. Kenapa dia ga fokus sama pelajarannya dulu ya?

    btw, editannya makin cakep aja nih. Hehehe…

  2. Ketika pelajar lebih mengutamakan emosi dan solidaritas salah kaprah daripada akal pikirannya. Yang jadi pertanyaan, sebenarnya apa yang diajarkan di SMAN 70 dan sekolah lain yang sering terlibat tawuran? Terus guru-gurunya ngapain aja kok murid-muridnya kelakuannya kaya’ gitu? Seharusnya pihak sekolah lebih tegas, toh dulu si doyok ini (dan mungkin pelajar-pelajar lain) sudah sering berulah. Mungkin lebih baik kalau ada one strike policy. Satu kesalahan besar seperti tawuran, siap-siap di D.O.

  3. Tawuran antar kedua sekolah tsb bukan hal baru, sejak akang bekerja di tempat yang berjarak 300 meter dari lokasi kedua sekolah tsb telah puluhan kali melihat tawuran antar mereka. Akang hanya berpikir koq masih ada aja orang tua yang mau menyekolahkan anak mereka di sekolah yang terkenal sering tawuran yang seringkali memakan korban jiwa. Mungkin salah satu hal yang disesalkan oleh orang tua dari Alawy adalah mengapa mereka memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.

    • Yang saya inget, Kang. SMA 70 itu terkenal dengan kegiatan ekstrakurikuler-nya yang berprestasi nasional. Sedangkan untuk SMA 6, saya punya teman lulusan sekolah tersebut, dan dia cerdas-nya luar biasa. Kedua sekolah tersebut termasuk sekolah favorit, setidaknya zaman saya sekolah dulu.🙂

  4. Ola , Fier dah balik lagi nih ke jagad blogsphere
    sengaja datang malam-malam tuk memberik kabar, hihi

    ga ada kata lain selain “sangat setuju” dengan artikel bang Nando
    kalau hidup ini penuh dengan manusia yang bisa dijadikan sahabat, then who needs enemy?

  5. pendidikan dalam keluarga sangat penting untuk mencegah tawuran …… lingkungan sangat berperan, semoga masyarakat bisa mengambil hikmah atas maraknya kejadian seperti ini, mirisss😦

  6. Saya juga tidak habis pikir dengan kejadian tawuran yang menimbulkan korban seperti itu. Kasih sayang,perhatian dan komunikasi yang baik, barangkali sangat membantu remaja untuklebih tenang dan mengindari perkelahian seperti itu ya..

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s