Fiksi: Putra Sang Pemimpin

Cerita berikut ini hanya fiksi belaka. Tiba-tiba muncul sendiri alur ceritanya setelah saya mengikuti khotbah Jumat kemarin siang. Jika ada kemiripan nama atau tempat, itu cuma kebetulan aja, yaa….Β :)

Nando


Pada suatu masa di negeri Antah Berantah, dua kakak beradik Ali dan Amir baru saja menyelesaikan pembangunan sebuah jembatan di atas sebuah sungai. Setelah menerima pembayaran terakhir, kedua ahli konstruksi tersebut kembali ke tempat usaha mereka bersama para pekerja.

Ali dan Amir terkejut melihat kereta kuda milik sang pemimpin negeri ada di halaman tempat usaha mereka. Segera mereka masuk ke ruang kerja mereka dan mendapati sang pemimpin ada di dalam bersama ajudannya.

“Assalamu Alaikum wahai Yang Mulia Ahmad Pemimpin Kami. Sekiranya apa yang bisa kami bantu untuk Yang Mulia?”

Ahmad Sang Pemimpin tersenyum dan menyalami kedua kakak beradik tersebut. Ali dan Amir mencium tangan Sang Pemimpin.

“Wa alaikum salam, ya Ali dan Amir bin Karim. Betapa senangnya aku melihat kalian berdua. Lihatlah usaha kalian begitu maju sekarang.”

“Terima kasih, Yang Mulia. Kami dibantu oleh para pekerja yang tak kenal lelah.”

“Duduklah, Nak. Aku yakin kalian baru saja melakukan pekerjaan lapangan yang melelahkan.”, ujar Sang Pemimpin. “Ada yang ingin kukatakan kepada kalian.” Ali dan Amir duduk dengan patuh.

“Aku, atas nama seluruh rakyat negeri ini mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian atas dibangunnya mesjid megah di tengah alun-alun ibukota. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan pahala yang besar.”

“Aamiin. Terima kasih Yang Mulia.”

“Sekarang aku akan berangkat ke rumah orangtua kalian. Kalian mau ikut?”

“Aku akan ikut, Yang Mulia. Sementara Amir tetap di sini menjaga tempat usaha kami.” jawab Ali.

“Baiklah. Sebaiknya kau segera bersiap-siap. Ganti pakaianmu dengan yang lebih bersih. Aku tunggu di kereta kuda.”

Ali bergegas mengganti pakaian. Amir juga berganti pakaian, tetapi tidak buru-buru seperti Ali.

“Amir, kau jaga tempat usaha kita ini sementara aku menjenguk orangtua kita. Sudah beberapa bulan aku tidak bertemu mereka.”

“Baiklah Kak Ali. Salam buat Ayah dan Ibu.” jawab Amir sambil melepaskan jubah kotor-nya. Ali tertegun sejenak. Bekas luka cambukan di punggung Amir terlihat begitu jelas dan sepertinya tidak akan pernah bisa hilang. Ali menarik nafas panjang.

“Bagikan upah para pekerja secara adil, ya…. Aku pamit dulu. Assalamu Alaikum.” kata Ali sambil berjalan ke luar.

“Wa alaikum salam.”

*****

“Ibuu……” seru Ali saat melihat seorang wanita tua keluar dari dalam rumah. Ia segera mencium kedua pipi ibunya.

“Dengan siapa kau kemari, Nak?” tanya sang ibu yang masih keheranan melihat kereta kuda besar di depan rumahnya.

“Aku datang bersama Yang Mulia Ahmad.” jawab Ali.

“Assalamu Alaikum, Kakak. Aku ingin bertemu Kakak Karim. Apakah beliau ada?” tanya Ahmad kepada Ibunda Ali.

“Wa alaikum salam, Yang Mulia. Beliau ada di dalam. Silakan masuk.” jawab Ibunda Ali.

Setelah mengucapkan terima kasih, Ahmad segera masuk ke ruang kerja Karim, ayah Ali dan Amir, sementara Ali tetap di luar bersama ibunya.

“Assalamu Alaikum, Yang Mulia Kakak Karim. Apakah engkau baik-baik saja?”

Karim mengalihkan pandangan dari buku yang tengah ia baca dan menoleh ke arah suara.

“Wa alaikum salam, Saudaraku Ahmad. Masuklah kau kemari.” ujar Karim sambil tersenyum lebar. Mereka berpelukan hangat.

“Apa gerangan yang membuatmu datang ke sini wahai Saudaraku? Apakah engkau butuh nasehat dariku?” tanya Karim sambil mempersilakan Ahmad untuk duduk.

“Aku datang untuk mengucapkan terima kasih atas mesjid megah yang telah dibangun anak-anakmu untuk rakyat negeri ini. Sungguh sebuah sumbangan yang sangat berharga.” jawab Ahmad. Karim tersenyum bangga.

“Lihatlah anak-anakmu, Kakak Karim. Pada akhirnya mereka menjadi orang yang berguna.” Karim mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Alhamdulillah. Allah yang mengatur ini semua.”

Sementara di halaman depan, Ali membantu ibunya memotong tanaman yang tumbuh secara liar.

“Kenapa adikmu tidak ikut ke sini?” tanya sang ibu.

“Salah seorang dari kami harus ada di tempat kerja supaya semua urusan lancar, Ibu. Amir titip salam untuk Ibu dan Ayah.”

“Wa Alaikum Salam. Dia baik-baik saja, kan?”

“Dia baik-baik saja, Ibu. Tidak ada masalah apapun.”

Sesaat kemudian, Ahmad keluar dari rumah.

“Aku akan kembali ke kota sekarang. Apa kau akan ikut?” tanyanya kepada Ali.

“Aku harus bertemu ayah dulu, Yang Mulia. Sebaiknya Yang Mulia berangkat saja sekarang.”

“Baiklah, tinggalkan seekor kuda untuk Ali.” perintah Ahmad kepada ajudannya. Kusir melepaskan seekor kuda dari kereta dan sang ajudan menyerahkan kuda tersebut kepada Ali.

“Kuda ini tidak ada artinya dibandingkan mesjid yang telah kau bangun.” kata sang ajudan sambil tersenyum kepada Ali. Ali mengangguk mengucapkan terima kasih. Setelah berpamitan kepada Ibunda Ali, Sang Pemimpin kembali ke kota. Ali masuk ke dalam rumah.

“Assalamu Alaikum, Ayah….” sapa Ali di kamar ayahnya.

“Wa Alaikum Salam. Masuklah, Nak. Ayah rindu padamu.”

Ali menghambur memeluk ayahnya. Lalu menangis saat mencium kedua tangan ayahnya yang buntung. “Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku……..”

Karim memeluk leher putranya dan mencium kepalanya. “Kau sudah berubah, Nak. Ayah bangga padamu….”

*****

Sepuluh tahun silam, Karim Sang Pemimpin adalah sosok yang sangat disegani hingga ke negeri seberang. Ia adalah pemimpin negeri yang berwatak keras namun adil. Sayangnya ia gagal membimbing putra-putranya sendiri. Mereka; Ali dan Amir, mendapatkan pendidikan yang tinggi, tapi perilaku mereka tidak mencerminkan kualitas pendidikan yang telah mereka jalani.

Keduanya suka berfoya-foya dan berjudi secara sembunyi-sembunyi. Mereka selalu berhasil menemukan tempat tersembunyi untuk berjudi dan melarikan diri sebelum penegak hukum mengepung mereka.

Pada suatu ketika, seorang teman membocorkan lokasi pesta judi Amir dan teman-teman lainnya kepada penegak hukum. Amir dan teman-temannya berhasil ditangkap dan dibawa ke pengadilan.Β Hukuman-pun dijatuhkan. Amir dan teman-temannya harus menerima hukuman cambuk dari para algojo.

Karim Sang Pemimpin datang sesaat sebelum eksekusi cambuk dilakukan. Ia mengambil cambuk dari tangan algojo lalu mencambuk putranya tersebut. Amir menjerit kesakitan, tetapi Karim tidak menghiraukannya.

“Tahukah kau, Nak?” tanya Karim sambil terengah-engah. “Ayah merasa bersyukur karena mereka tidak memutuskan untuk memotong tanganmu. Mereka hanya memutuskan untuk mencambukmu seperti ini!!!” ujar Karim sambil mencambuknya lagi. Amir meraung sekeras-kerasnya.

“Ampun, Ayah…. Aku tak akan mengulanginya. Ampuuun…..”, Amir memohon belas kasihan ayahnya. Punggungnya mulai robek dan mengucurkan darah segar. Karim mencambuknya lagi dan lagi. Jeritan Amir terdengar makin memilukan.

“Kau telah mempermalukan aku, Nak. Kau telah mencoreng muka ayahmu ini.” Satu cambukan membelah telinga kanan Amir. Amir melengking panjang.

“Ayah menghukummu sambil berharap agar kelak Allah tidak akan mengirimmu ke neraka. Ayah berharap agar kau segera bertobat sebelum kematian menjemputmu.” Satu cambukan lagi mengoyak punggung Amir semakin lebar. Seorang algojo dan seorang petugas pengadilan memegangi tangan Karim.

“Sudah cukup, Yang Mulia. Sudah cukup hitungannya.” ujar petugas pengadilan. Karim menoleh ke arahnya, lalu menoleh ke arah algojo. Sedetik kemudian, ia melepaskan cambuk dari tangannya.

“Lepaskan ikatan Amir dan bawa ke ruang pengobatan.” perintah si petugas kepada rekan-rekannya. Karim menyaksikan para petugas menggotong Amir ke ruang pengobatan lalu bergegas pergi bersama ajudannya. Sejumlah orang berkerumun hingga Karim tidak bisa melanjutkan langkahnya. Mereka menunduk hormat. Seorang di antara mereka bergerak maju.

“Wahai Karim Pemimpin Kami. Engkau sungguh pemimpin yang adil dan tidak pilih kasih. Sungguh beruntung kami memiliki pemimpin seperti engkau. Terimalah hormat kami, Yang Mulia.”

Karim memeluk orang tersebut dan berkata; “Aku telah gagal memimpin anak-anakku sendiri. Masih pantaskah aku menjadi pemimpin kalian?”

“Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Yang Mulia. Sekeras apapun dia berusaha. Tapi seorang pemimpin akan terus dicintai rakyatnya, jika ia selalu berusaha adil.” ujar orang tersebut.

Karim memeluknya lagi. Matanya berkaca-kaca. “Sungguh sebuah kehormatan bagiku menjadi pilihan orang bijak seperti engkau, Saudaraku………”

Karim menyalami semua orang yang mengerumuninya lalu pamit.

*****

Ali menendang pintu ruang kerja ayahnya hingga terbanting. Karim terkejut, lalu bangkit dan mencabut pedangnya.

“Ya, Ayah. Bunuh saja aku.” ejek Ali sambil membentangkan tangannya. Karim menatapnya sejenak lalu menyarungkan kembali pedangnya.

“Bunuh aku, Ayah. Atau siksa aku seperti kau siksa Amir. Silakan, Ayah…..” lanjut Ali.

“Jika kau tertangkap tangan sedang berjudi, maka Ayah takkan sungkan untuk mencambukmu.” ujar Karim sambil duduk kembali di kursi kerjanya.

“Ya, mencambuk anak sendiri seperti mencambuk binatang. Tidak ada makhluk di dunia ini yang tega menyiksa anaknya sendiri kecuali engkau, Ayah. Engkau adalah makhluk paling kejam di dunia ini.”

“Ini adalah hukum yang berlaku di negeri kita, Ali. Hukum ini berlaku untuk semua orang, termasuk kita.”

“Hahahaha…. Jika ayah kedapatan berjudi, tidak akan ada orang yang berani menghukum Ayah.” ejek Ali lagi.

“Ayah tidak akan pernah berjudi. Kau tahu itu!” bentak Karim.

“Apakah ibu tahu kalau Ayah telah menyiksa Amir?”

“Ibumu sedang sakit. Jangan kau ceritakan masalah ini padanya.”

Ali mendekati meja kerja ayahnya. “Kesalahan anak adalah kesalahan orangtuanya, Ayah. Seharusnya Ayah juga menerima hukuman.”

“Ayah juga merasakan sakit yang dirasakan Amir, Nak. Kau kira Ayah suka mencambuk anak sendiri? Tidak, Nak. Ayah tidak menyukainya. Batin Ayah sungguh terasa sakit.”

“Ayah bohong. Kalau Ayah tidak suka menyiksanya, Tidak mungkin Amir terluka separah itu. Tidak mungkin, Ayah!!”

“Ayah harus adil pada semua orang, Nak. Seorang pemimpin itu harus adil.”

Ali bergegas keluar. Lalu berhenti di depan pintu. “Aku akan memulai pemberontakan, Ayah. Aku akan memimpin pemberontakan untuk menjatuhkanmu.”

“Itu bukan tindakan yang bijak, Nak. Kau akan menyesalinya………”

Ali tidak mendengar kata-kata terakhir ayahnya. Ia sudah berlari menjauh.

*****

“Assalamu Alaikum, Yang Mulia.”

“Wa alaikum salam. Masuklah, Saudaraku.” jawab Karim. Sang ajudan masuk dan memberi hormat.

“Ada, apa?” Tanya Karim kepadanya.

“Penegak hukum sudah menangkap sejumlah orang yang meresahkan pedagang beberapa hari belakangan ini, Yang Mulia. Mereka menyebut diri sebagai kaum pemberontak yang ingin menggulingkan Yang Mulia.”

Wajah Karim memucat. “Apakah Ali ada di antara mereka?”

“Ali bin Karim adalah pemimpin mereka, Yang Mulia. Ia yang memerintahkan teman-temannya untuk merampas harta para pedagang…..”

Karim merasakan sekujur tubuhnya menjadi lemas. Keringat dingin membasahi kepala dan tengkuknya. “Apakah ia sudah dibawa ke pengadilan?” tanyanya lagi.

“Pengadilan menjatuhkan hukuman potong tangan untuknya, Yang Mulia.” Sekejap seluruh ruangan terasa gelap bagi Karim.

“Semua orang menginginkan Yang Mulia hadir sebelum eksekusi dilaksanakan.” lanjut sang ajudan.

“Baiklah, kita berangkat sekarang.” ujar Karim sambil berdiri. Tapi tiba-tiba tubuhnya terasa rapuh, dan bumi tempatnya berpijak seolah bergetar dengan hebat. Ia menjadi limbung.

Dengan sigap, sang ajudan memegangi tubuh Sang Pemimpin yang hampir jatuh. Karim mengucapkan terima kasih padanya dan menepuk pundaknya.

“Kalau Yang Mulia merasa kurang sehat, sebaiknya tidak usah ke sana. Saya bisa mewakili yang Mulia.” Sang ajudan mengajukan diri.

“Tidak, Saudaraku. Jika rakyat menginginkan pemimpinnya hadir, maka sang pemimpin harus hadir. Pemimpin itu melayani rakyat, bukan dilayani rakyat. Kita berangkat sekarang….”

*****

Karim tiba di tempat eksekusi disambut sejumlah penasihat yang sudah menunggunya.

“Sungguh kami tidak menyangka Yang Mulia akan mendapat cobaan bertubi-tubi. Kami sudah memeriksa semua bukti yang ada. Tidak ada hukuman lain yang pantas untuknya selain potong tangan, Yang Mulia.”

Karim mengangguk sambil terus bergerak ke ruang eksekusi. Dari kejauhan, ia melihat Ali duduk pada sebuah kursi dengan tangan terikat rantai besi pada sebuah meja. Petugas pengadilan melihat Karim datang dan langsung menghampirinya.

“Yang Mulia…. Yang Mulia, untuk eksekusi kali ini sebaiknya dilakukan oleh algojo yang sudah berpengalaman saja. Memotong tangan harus dilakukan dengan sekali tebas dan tidak boleh melenceng, Yang Mulia. Karena sangat berbahaya kalau melenceng……”

Karim berdiri tegak di depan Ali. Ali menengadahkan kepalanya.

“Apakah Ayah akan memotong tanganku?” tanyanya dengan wajah kuyu. Karim tak menjawab. Ia menatap Ali lekat-lekat. Sang ajudan mengambilkan kursi untuknya. Sekarang Karim duduk di hadapan Ali.

“Apakah Ayah akan menyaksikan seseorang memotong tanganku?” tanya Ali lagi. Karim tetap tak menjawab. Ia menggenggam kedua tangan Ali, lalu mencium kedua tangan tersebut berkali-kali. Ali tertegun. Semua orang tertegun.

“Kau memiliki tangan yang kekar dan kuat, Nak…..” ujar Karim tersendat. ” Tangan yang sangat berguna untuk membangun negeri ini. Tangan yang aku butuhkan untuk membopongku saat aku tak kuat lagi berjalan. Tangan yang terampil menggambar rumah yang sangat indah…..” Air mata mengalir di wajah Sang Pemimpin dan membasahi janggutnya yang tebal, membasahi kedua tangan Ali. Nafas Ali tertahan. Rasa sesal yang hebat mendera batinnya. Ya, Allah… Betapa aku telah menyakitinya selama ini, serunya dalam hati.

Tiba-tiba Karim mengangkat kepalanya. Ia menatap Ali dalam-dalam lalu berdiri. “Kesalahan seorang anak adalah kesalahan orangtuanya. Bukan begitu, Ali?” katanya tegas.

“Ayah bicara apa??” tanya Ali terkejut.

Karim menatap sekeliling dan berkata lantang, “Kesalahan seorang anak adalah kesalahan orangtuanya.” Semua orang saling berpandangan.

“Allah menitipkan anak ini kepadaku untuk aku didik menjadi orang yang berguna. Ternyata ia tumbuh menjadi perampok. Aku telah gagal mendidiknya. Akulah yang bersalah…….”

“Ayah…. Cukup, Ayah. Jangan bicara seperti itu…..” Ali memohon dengan panik. Karim berjalan mendekati petugas pengadilan yang kebingungan.

“Hukuman potong tangan ini, sudah sepantasnya dijatuhkan kepadaku. Aku telah gagal mendidik kedua anakku.” ujar Karim kepada sang petugas. Para penasehat mengelilingi Sang Pemimpin, memintanya untuk menarik ucapannya. Petugas pengadilan memerintahkan rekannya memanggil Pak Hakim.

“Ayah, kau adalah pemimpin negeri ini. Kau bisa menyelamatkan kita berdua……..”, jerit Ali. Karim menatap Ali dengan tenang. “Pemimpin bukanlah penguasa. Pemimpin adalah pelayan rakyat. Rakyat adalah penguasa.” katanya sambil tersenyum.

Pak Hakim dan sejumlah rekannya tiba dengan tergesa-gesa. Sang petugas segera menjelaskan perkembangan baru ini kepadanya.

“Potonglah kedua tanganku ini, Saudara Hakim. Aku tidak terlalu membutuhkannya. Aku dibantu banyak orang dalam menjalankan roda pemerintahan.”

“Eksekusi ini dilakukan bukan untuk orang yang sudah tidak membutuhkan tangannya, Yang Mulia. Tapi untuk orang yang telah mengambil hak orang lain.” Jawab Pak Hakim.

“Ya, anak ini memang telah mengambil harta orang lain. Dan saya berjanji akan mengganti semuanya. Dia anak saya. Dan saya harus bertanggungjawab atas semua tindakannya, di mata semua manusia dan di mata Tuhan.” Karim menggenggam tangan Pak Hakim.

“Saya yakin ia akan berubah, Pak Hakim. Kurunglah ia selama setahun. Akan kukirim seorang guru agama untuk mendidiknya setiap hari. Jika ia tidak berubah, silakan kau potong tangannya. Tapi untuk saat ini, biarlah tangan tua ini menggantikannya.” bujuk Sang Pemimpin.

“Aku minta waktu sejenak, Yang Mulia,” ujar Pak Hakim. Lalu ia berembuk dengan rekan-rekannya.

“Ayah, aku sungguh menyesal. Maafkan aku, Ayah…..”, seru Ali sambil menangis. Karim mendekatinya dan mengelus kepalanya.

“Gunakan tanganmu untuk hal yang berguna, Nak. Jangan lagi kau permalukan ayahmu ini. Cukup sudah…..” ujar Karim lemah lembut. Ali berusaha keras meraih tangan ayahnya, lalu menciumnya.

“Aku tak ingin mereka memotong tangan Ayah. Ayah adalah pemimpin yang bersih. Ayah tak pantas menerima hukuman ini………”

“Baiklah, Yang Mulia. Kami semua setuju dengan pendapat Yang Mulia. Mari kita siapkan peralatan eksekusinya.” ujar Pak Hakim.

“Apa?? Apa yang kalian setujui?? Apa yang akan kalian lakukan??” jerit Ali sambil meronta-ronta saat petugas melepaskan tangannya dari rantai besi. Dengan susah payah, para petugas berusaha menariknya kembali ke ruang tahanan.

“Biarkan dia tetap di sini. Biarkan dia menyaksikan tangan ayahnya dipotong.” perintah salah seorang penasehat kepada petugas. “Ikat dia di kursi yang lain di sini. Menghadap ke arah ayahnya.”

“Tidaaak…… Tidaaaaaaaaaakk………..”

Ali menyaksikan petugas merantai kedua tangan ayahnya dan meletakkannya pada meja eksekusi. “Berikan aku sehelai kain tebal untuk aku gigit.” ujar Karim dengan suara parau. Petugas mengambilkan kain tersebut dan meletakkannya di mulut Karim.

“Apakah Yang Mulia sudah siap?” tanya petugas kepada Karim. Karim mengangguk sambil menggigit kain tersebut sekuat mungkin. Kilau pedang berkelebat menyilaukan mata.

“Ayaaaaaaaaaahhhhhhhhh…………………”

*****

“Aku harus kembali ke tempat kerja, Ayah. Aku dan Amir harus mengevaluasi laporan kerja hari ini. Insya Allah hari Ahad pagi aku akan datang bersama keluargaku.”, janji Ali kepada ayahnya.

“Ya, bawalah cucu-cucuku ke sini hari Ahad pagi. Ayah senang bermain dengan mereka. Dan katakan pada Amir agar ia juga datang membawa keluarganya ke sini.”

“Baiklah, Ayah”, Ali mencium kening ayahnya. “Assalamu Alaikum…..”

“Wa alaikum salam,” jawab Karim sambil tersenyum. Ali keluar dan menutup pintu kamar kerja ayahnya perlahan-lahan.

———————————————

www.pondokmaya.com

16 thoughts on “Fiksi: Putra Sang Pemimpin

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s