Blame It on the Rain

Mesin pompa sudah mulai tak mampu menyedot air dari dalam tanah. Beberapa kali saya pancing, tapi berkali-kali juga air yang tersedot berubah menjadi angin. Mulai kehabisan akal saya ini. Terpaksa memanggil tukang air galonan yang biasa lewat. Delapan galon air sekali beli. Cukup dari pagi sampai sore. Setelah itu harus beli lagi, atau coba memancing pompa lagi.

water drop

Sepertinya air tanah di tempat saya sudah mulai mengering dan saya hanya bisa menyalahkan hujan yang tidak juga turun hingga sekarang. Padahal sudah lewat pertengahan Oktober, ya?

Mendung sering datang pagi atau sore hari, tetapi ternyata cuma numpang lewat. Hehehe…. Tahun lalu hujan baru turun setelah masuk bulan November dan sepertinya tahun ini juga akan begitu.

Tapi saya sungguh berharap agar hujan bisa datang lebih cepat karena kondisi sekarang membuat kami kesulitan mendapatkan air. Hmm…. Moga moga saja, yaaa….

Iklan

25 thoughts on “Blame It on the Rain

  1. Aha…….. itu muka air tanah turun mas. Penyebabnya karena kemarau (tidak ada infiltrasi air kedalam tanah) dan exploitasi airtanah berlebihan. Solusi jangka pendek “dalemin sumur”. Solusi jangka panjang ya nunggu ujan + reboisasi. He…he… sok tau ye…

  2. Ping-balik: Kontes Akbar Tinggal Empat Hari Lagi! « Langkah Catatanku

  3. Jadi inget waktu KKN ke purwakarta, disitu juga suka susah air,
    bahkan harus bayar 100.000 untuk beli air satu bak..
    semoga hujan cepat datang ya Kak 🙂

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s