Haru Biru Ramadhan 1434 H

menjelang lomba

Si Uni (Kamera E63, 2 MP)

Sejumlah kejadian yang menyenangkan dan menyedihkan telah saya alami selama Ramadhan kali ini. Kondisi memaksa si Ade untuk tinggal dan bersekolah di kota yang berbeda dengan Uni-nya. Menjelang tidur di malam hari, Si Uni sering menangis karena kangen.

Uni dan Ade (kamera C6.00)

Uni dan Ade (kamera C6.00, 5 MP)

Untuk melupakan kesedihannya, saya selalu mengajaknya Tarawih setiap malam. Di mesjid ia bisa berbaur dengan teman-temannya dan sejenak melupakan kerinduannya.

Pada suatu malam saat pulang Tarawih, si Uni mengatakan bahwa teman-teman telah mengganggunya saat shalat, sehingga ia tidak bisa konsentrasi. Saya katakan padanya agar ia tidak lagi duduk di dekat teman-temannya saat Tarawih dan memilih tempat yang agak jauh di depan. Ia menolaknya dan mengatakan kalau ia hanya mau ada di dekat teman-temannya.

Beberapa malam kemudian, ia mengatakan tidak mau ikut Tarawih lagi karena bertengkar dengan seorang temannya. Saya katakan padanya sekali lagi bahwa ia masih bisa ikut Tarawih, asal tidak berdekatan dengan teman-temannya. Kali ini ia setuju. Malam-malam berikutnya, ia bisa konsentrasi dalam menjalankan shalat Tarawih.

Tanggal 15 Juli 2013, pengurus mesjid mengumumkan adanya lomba Adzan dan Hafalan Surah Juz ‘Amma khusus untuk SD / SMP pada hari Minggu, 21 Juli 2013. Si Uni kepingin ikut sehingga langsung saya daftarkan hari itu juga.

Hari Minggu pagi kami sudah tiba di mesjid untuk mengikuti lomba hafalan surat. Lomba selesai saat hari sudah siang. Pengumuman pemenang akan disampaikan minggu berikutnya, tanggal 28 Juli 2013 sore.

Lomba Hafalan Juzz 'Amma (kamera E63, 2 MP)

Lomba Hafalan Juz ‘Amma (kamera E63, 2 MP)

Pada tanggal 26 Juli 2013 saat dalam perjalanan ke Bogor, saya terjebak kemacetan saat masih berada di Jakarta. Saat itu hari sudah sore dan saya belum sholat Ashar. Jam setengah enam sore saya melompat dari kendaraan umum dan langsung berlari ke sebuah mesjid di pinggir jalan, yaitu Masjid Assalafiyah di Warung Buncit, untuk melaksanakan shalat Ashar.

Selesai shalat, saya langsung bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Bogor. Tapi seorang pengurus mesjid yang terlihat masih remaja, mencegat saya dan menggiring saya ke tempat para musafir lainnya tengah duduk bersila menunggu waktu berbuka. Makanan dalam nampan-nampan besar dan teh hangat telah tersedia di depan kami. Saat adzan terdengar, kami langsung makan.

Berbuka di Masjid Assalafiyah, Warung Buncit (kamera E63, 2 MP)

Berbuka di Masjid Assalafiyah, Warung Buncit (kamera E63, 2 MP)

Mohon maaf kalau fotonya jelek, yaaa…. Saat ini ponsel yang saya gunakan adalah Nokia E63 dengan resolusi kamera cuma 2 MP dan flashlight yang kurang memadai. Jadi, mohon dimaklum.🙂

Ada rasa tak nyaman di hati karena telah makan ‘gratisan’ di mesjid tersebut. Tapi setelah melihat sebuah kotak amal besar dari kaca di dekat dinding, hati saya menjadi nyaman kembali. Pukul setengah tujuh malam, setelah selesai shalat Maghrib, saya melanjutkan perjalanan ke Bogor.

Minggu sore tanggal 28 Juli 2013, saya dan si Uni sudah tiba di mesjid kami menunggu pengumuman pemenang lomba Hafalan Surat. Setelah sejumlah pidato dari tokoh mesjid dan masyarakat, pengumuman pun disampaikan.

Pengumuman pertama adalah pemenang lomba Surat Yassin khusus untuk ibu-ibu, dilanjutkan dengan pemenang lomba adzan khusus untuk anak laki-laki, kemudian baru disebutkan pemenang lomba Hafalan Surat Juz ‘Amma. Alhamdulillah, Si Uni juara kedua.🙂

Pembagian Hadiah (kamera E63, 2 MP)

Pembagian Hadiah (kamera E63, 2 MP)

Si Uni sendiri puas dengan pencapaiannya dan itu membuat saya senang.

Tapi kegembiraan kami tidak berlangsung lama. Esok sorenya, ibu saya terjatuh saat sedang di dapur. Kepalanya terbentur dan bocor. Darah tak henti-hentinya mengucur dari kepalanya, membasahi rambut dan  pakaiannya. Saya menangis.

Ceceran darah dari kepala ibuku (Mohon maaf jika anda tidak kuat melihat darah).

Ceceran darah dari kepala ibuku (Mohon maaf jika anda tidak kuat melihat darah).

Kami membawanya ke RS JMC dan beliau langsung masuk ke ruang IGD. Hasil scan menunjukkan bahwa tengkoraknya tetap utuh (Alhamdulillah). Tapi darah terus mengucur dari kepalanya yang sudah membengkak. Dokter dan perawat mencukur rambut di sekitar luka robek dan mulai menjahit kepala ibu saya. Beberapa kali darah muncrat mengenai seragam dokter dan perawat saat jarum jahit ditusukkan ke kepala ibu. Saya hanya bisa menggeleng sambil menghela nafas. Kami berbuka di rumah sakit.

Ada bercak darah di pakaian saya saat melaksanakan shalat Maghrib di mushola rumah sakit. Saya tidak membawa baju ganti. Dan saya tidak mungkin pulang ke rumah untuk berganti pakaian melewati jalanan yang macet total. Semoga Allah menerima shalat saya.

Saat ini ibu saya sudah kembali ke rumah. Kepalanya masih terasa pusing dan mulutnya sulit untuk menelan makanan. Tapi beliau sudah bisa berjalan normal. Alhamdulillah…….

Selamat Hari Raya Idul Fitri, rekan-rekan semua. Mohon maaf lahir bathin, yaaa….

Hati-hati di jalan dan tetaplah bersabar. Insya Allah kita semua sampai ke tujuan dengan selamat.

Aamiin………..

7 thoughts on “Haru Biru Ramadhan 1434 H

  1. Ikut senang atas prestasi si Uni dan turut sedih atas musibah yg menimba Ibu. Semoga beliau cepat sembuh. Amin. Yah this is life ya Pak Nando..senang dan sedih datang silih berganti. Semoga kita selalu tawakal.

  2. Semoga Ramadhan yang dilalui dengan ujian dan cobaan ini menambah keberkahan Ramadhan buat Mas Nando sekeluarga. Selamat lebaran mohon maaf lahir bathin “Taqobbalallohu minna wa minkum”

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s