Cerita Akhir Pekan

Family-of-five

Ramadhan turun dari kereta sambil berlari kecil. Ia menutupi kepalanya dengan tas kerja untuk menghindari gerimis. Sudah pukul 19.40 malam. Tidak terlihat rasa letih di wajahnya. Ia melambaikan tangan pada sebuah angkot yang tengah bergerak perlahan. Tanpa menunggu hingga berhenti, ia melompat ke dalam angkot dengan penuh semangat.

Sudah seminggu ini ia bekerja di kantor baru. Ia merasa sudah terlepas dari beban berat yang selama ini menghimpitnya. Malam ini malam Minggu. Ia akan beristirahat dan bercengkrama dengan anak-anaknya.

“Papaaa……..!”

Ketiga anaknya berteriak senang saat melihatnya muncul di depan pintu rumah. Ramadhan tertawa lepas sambil memeluk ketiganya. Rani, istri Ramadhan, muncul dari dalam sebuah kamar. Ia mendatangi Ramadhan dan mencium tangannya. Tanpa mengatakan apa-apa, ia langsung ke dapur dan menyeduh kopi.

Ramadhan memperhatikannya dengan pandangan bertanya-tanya. Tapi dengan cepat pikirannya teralihkan oleh anak-anaknya yang terus menerus menarik tangan dan kakinya hingga ia jatuh terduduk. Ramadhan tertawa sambil menciumi ketiga bocah tersebut.

Rani muncul dengan membawa secangkir kopi. Ia meletakkan kopi tersebut di meja dan segera berlalu.

“Udah makan belum?” tanya Ramadhan pada ketiga putranya.

“Udaaaaah………” jawab mereka bersamaan.

“Udah minum susu?”

“Udaaaah…….”

“Ya, udah sana pada tidur……”

“Nggak mauuuuu………”

Ramadhan terkekeh. “Trus maunya apa?”

“Main…….”

“Tapi ngga boleh main ke luar, yaaaa. Soalnya udah malam dan hujan deras.”

“Iya, Paa…..”

Ramadhan meninggalkan ketiga putranya dan menghampiri istrinya yang tengah menyetrika.

“Ada apa, Ma?”

Rani menoleh ke arahnya sejenak, lalu melanjutkan pekerjaannya. “Mama tidak mau kalau kita terus menerus ngontrak rumah, Pa. Kita seharusnya sudah bisa mengangsur rumah sendiri. jadi nggak perlu lagi mindahin barang setiap kali pindah kontrakan.” katanya.

“Lho, bukannya ini udah kita bahas minggu lalu? Kan aku udah bilang kalau kita harus cari dulu tempat yang cocok untuk anak-anak kita.”

“Udah dapat tempatnya, Pa?”

“Ya belum dong. Kan baru aja kita bahas minggu lalu.”

“Kenapa Papa tidak mau melihat tempat yang ditawarkan kawan Mama? Mungkin saja tempat itu cocok buat anak-anak.”

“Tempat itu terlalu jauh dari sekolah anak-anak, Ma. Posisinya di luar kota. Anak-anak masih terlalu kecil jika harus bersekolah sejauh itu. Dan kita juga tidak mungkin memindahkan sekolah anak-anak ke kota yang berbeda, karena membutuhkan biaya administrasi yang sangat besar.”

“Kalau gitu tolong cari pemecahannya dong, Pa.”

“Papa sedang mencari rumah sekarang ini, Ma. Yang tidak terlalu jauh dari sekolah anak-anak. Sabar aja. Nanti juga dapat.”

Rani menggelengkan kepalanya. “Rumah di Jakarta tidak ada yang murah, Pa. Sampai kapanpun tidak akan pernah kita dapat.”

“Kan kita baru mulai mencari, Ma. Dan kita masih punya waktu di sini sampai akhir tahun. Sabar ajalah….”

Rani kembali menggeleng. “Kita sudah terlalu sering berbeda pendapat, Pa. Sepertinya kita memang sudah tidak sejalan.”

Ramadhan menatap Rani tajam. “Papa tau kalau Papa sudah terlalu sering berbuat salah sehingga toko kita bangkrut dan hidup kita terombang-ambing. Tapi sekarang Papa sudah mulai bekerja lagi, Ma. Papa sedang termotivasi untuk memperbaiki kehidupan kita. Papa butuh dukungan dari Mama. Berikan waktu untuk Papa memperbaiki nasib kita, Ma.”

“Ini bukan pertama kalinya Papa mengucapkan janji kosong yang pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa untuk keluarga kita. Mama sudah capek menunggu datangnya nasib baik, Pa.”

“Waktu itu Papa sedang menganggur, Ma. Cuma kerja serabutan. Tapi sekarang Papa bekerja di kantor dan akan menerima gaji setiap bulan. Papa sudah mulai bisa menabung lagi, Ma. Ini bukan janji kosong.”

Rani tersenyum sinis. “Mama sudah terbiasa mendengar janji-janji Papa. Pada akhirnya, Mama jadi terbiasa menyelesaikan semua masalah Mama sendiri tanpa bantuan siapapun. Dengan gaji hasil mengajar, Mama bisa memenuhi semua kebutuhan anak-anak tanpa bantuan Papa. Apa Papa tidak malu?” tanyanya.

“Papa malu, Ma. Dan Papa minta maaf telah membuat susah hidup Mama selama ini. Tapi kondisi sekarang sudah berbeda, Ma. Papa sudah bekerja lagi dan nanti gaji Papa adalah untuk memperbaiki kehidupan kita. Papa kira Mama senang karena Papa sudah bekerja lagi….”

“Mama senang, Pa. Dan Mama bisa memaafkan Papa. Tapi hanya itu. Pikiran kita sudah tidak sejalan lagi, Pa. Saat ini kita masih bersama adalah karena ada anak-anak.”

Ramadhan membelalakkan matanya. “Mama sudah tidak menginginkan Papa?”

Rani tidak menjawab.

“Mama sudah tidak menginginkan Papa di sini?” tanya Ramadhan lagi. Rani tetap tidak menjawab.

Ramadhan menarik nafas panjang sambil menengadahkan kepalanya. Libur akhir pekan yang luar biasa, keluhnya dalam hati. Ia berdiri dan mengambil tas kerjanya. Lalu menghampiri anak-anaknya yang sedang bertengkar.

“Eeeh……. Koq jadi berantem? Kenapa?” tanyanya.

“Mainannya diambil Kakak.” jawab si Bungsu sambil menangis. Ramadhan menoleh ke arah si Kakak.

“Ini punya aku, Pa.” kata si Kakak. “Dari tadi dipinjam sama Adik, tapi sekarang aku juga mau pakai. Tapi tidak boleh sama Adik.” jelasnya sambil cemberut.

“Kamu pakai mainan yang lain aja dulu.” bujuk Ramadhan pada si Kakak.

“Tidak mau, Pa. Aku maunya yang ini.”

“Pinjami saja dulu. Nanti abis gajian Papa beliin mainan baru. Oke?”

“Bener ya, Pa. Horeee…..” jawab si Kakak lalu menyerahkan mainannya kepada si Adik. Si Adik berhenti menangis. Ramadhan mencium kepala kedua bocah laki-laki tersebut lalu berdiri.

“Papa mau ke mana?” tanya si Sulung yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Emm…. Papa masih ada urusan, Sayang…” jawab Ramadhan sambil menghampiri putri sulungnya.

“Kan Papa baru pulang. Kok udah mau pergi lagi?” tanyanya dengan wajah kecewa. Ramadhan mencium kepalanya.

“Nanti kalau urusan Papa udah selesai, Papa pulang lagi, kok.” jawab Ramadhan sambil tersenyum.

“Ini aku punya hadiah buat Papa” ujar si Sulung sambil menyerahkan sebuah bingkisan kecil. Sebuah bingkisan yang dibungkus dengan kertas bekas.

“Apa ini?” tanya Ramadhan sambil membuka bingkisan tersebut. Ada sebuah permen di dalamnya. Ramadhan membuka bungkus permen dan memakan isinya.

“Hmm… Enak. Terima kasih ya, Sayaaaang….” kata Ramadhan sambil tersenyum.

“Selamat ulang tahun, Papa….” kata si Sulung sambil mencium pipi Papanya. Ramadhan menatap putrinya sambil tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

“Papa sayang kalian semua. Semoga kalian semua menjadi orang-orang yang berguna…..” Ramadhan mengelus rambut putrinya lalu membuka pintu. Ia berjalan keluar sambil melambaikan tangan. Si putri sulung membalas lambaiannya. Kedua putranya yang lain ikut berdiri dan melambaikan tangan.

Ramadhan mengangkat tasnya di atas kepala. Gerimis masih terus turun dan memaksa Ramadhan untuk kembali berlari kecil.

*****

Bagian Selanjutnya: Usai Jam Kantor

6 thoughts on “Cerita Akhir Pekan

  1. keren Bang, menginspirasi, dalam sebuah keluarga seharusnya ada rasa saling mengerti agar keharmonisan rumah tangga terjaga.
    kalo sang istri tidak mau mengerti bisa-bisa berantakan tu keluarga.

    • Tengkyu, Sob. Di satu sisi memang si suami terlihat sebagai korban di sini. Tapi di sisi lain, kita juga bisa menganggap bahwa si istrilah yang sebenarnya menjadi korban dan telah cukup lama bersabar mendengar janji kosong suaminya. Sehingga akhirnya ia mengambil sikap.🙂
      Makasih sekali lagi ya, Sob…..

      • iya juga sih … disini pertanggung jawaban si suami ditanyakan… tp suaminya juga nggak salah karna suaminya masih berjuang,
        jadi intinya harus saling mngerti satu sama lain

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s