Suatu Hari di Sebuah Mall

Italy_Venice_Policemen

Bocah perempuan itu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah bingung. Beberapa kali ia melangkah dengan wajah ragu. Matanya terus mencari-cari seseorang. Pengunjung mall siang itu memang sangat ramai. Dan bocah perempuan itu terlihat begitu kecil di tengah kerumunan manusia.

Seorang sekuriti yang sedang ngobrol di meja bagian informasi melihatnya dan langsung menghampirinya. Ia tersenyum pada si bocah.

“Hai, Manis. Kamu nyari siapa?” tanyanya sambil jongkok.

“Nyari Mama….” jawab si Bocah dengan wajah memelas.

“Oooo….. Kamu ke sini tadi sama mama?” tanya sang sekuriti lagi. Si bocah mengangguk.

“Berdua aja sama mama? Atau sama papa juga?”

“Berdua aja.”

Sang sekuriti mengangguk. “Namamu siapa, Manis?” tanyanya.

“Ika….” jawab si Bocah.

“Nama saya Gunawan, Neng Ika Manis….” kata sang sekuriti sambil berdiri kembali. “Yuk, ikut saya ke meja itu. Nanti mama Neng Ika kita panggil pakai pengeras suara.”

Ia menggandeng tangan Ika sambil menganggukkan kepalanya. Ika menurut saja dan keduanya berjalan menuju meja informasi.

“Perhatian kepada seluruh pengunjung mall. Seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun sedang menunggu orangtuanya di bagian informasi dekat pintu masuk. Bagi mereka yang merasa kehilangan, diminta untuk menemuinya di meja informasi. Terima kasih…. ” kata si Mbak di meja informasi menggunakan mikrofon PA. Si Ika duduk dengan manis di pangkuannya.

Seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan mendatangi meja informasi dengan terburu-buru bersama seorang lelaki berusia empat puluhan. Mereka membawa kantung belanjaan yang cukup banyak. Si wanita melambaikan tangannya kepada Ika. Gadis kecil itu membalasnya dengan antusias.

“Di sini kamu rupanya ya, Ika… Kita cari ke mana-mana dari tadi, lho….” kata si Wanita sambil tersenyum dan menggandeng Ika.

“Ika ini anak Ibu, ya?” tanya Gunawan dengan sopan.

“Iya..” jawab si Wanita sambil menyibakkan rambutnya.

“Terima kasih sudah menjaganya ya, Mas..” kata si Lelaki sambil menepuk bahu Gunawan.

“Sama-sama, Pak.” jawab Gunawan sambil mengangguk.

“Ayo kita pulang.” kata si Bapak kepada Ika dan ibunya. Si Ika melambaikan tangan kepada Gunawan. “Dadah, Kak Gunawan.” katanya.

“Dadah, Ika. Jadi mereka ini orangtuamu, ya?” ujar Gunawan sambil tersenyum.

“Bukan. Ini Oom dan Tante teman Mama.” jawab Ika.

“Ha?? Lalu Mama-mu ada di mana?” tanya Gunawan sambil buru-buru mendekati Ika.

“Nggak tau…” jawab Ika sambil menoleh ke arah si Ibu.

“Mamanya ada di mana, Bu?” tanya Gunawan dengan wajah serius.

“Mamanya masih belanja. Tadi dia meminta kami menjemput Ika ke sini setelah mendengar pemberitahuan melalui pengeras suara tadi.” kata si Bapak menjelaskan.

“Maaf, Pak. Sebaiknya Bapak menghubungi Mamanya Ika sekarang dan memintanya untuk ke sini menjemput Ika.” saran Gunawan kepada si Bapak.

Si Bapak memiringkan kepalanya dengan wajah tak senang. “Belanjaannya sangat banyak, Mas. Dan di sana lebih dekat ke tempat parkir mobil daripada di sini. Kalau dia harus ke jalan ke sini dulu, baru kemudian ke parkiran, itu hanya akan buang-buang waktu dan tenaga. Nggak usah dibikin repot-lah, Mas…” kata si Bapak sambil melirik si Ibu.

Si Ibu mengerti lirikan tersebut lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah dari dompetnya. “Terima kasih ya, Mas. Sudah menjaga Ika untuk kami.” katanya sambil tersenyum. Gunawan menatapnya kaget.

“Maaf, Bu. Apakah saya terdengar seperti orang yang sedang meminta uang? Kalau iya, saya mohon maaf, Bu. Bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin agar Ika dijemput langsung oleh Mamanya. Hanya itu, Bu. Tidak ada maksud lain.” kata Gunawan sambil menarik tangan Ika. Bocah itu menolak tangan Gunawan lalu bersembunyi di belakang si Ibu. Gunawan kembali terkejut.

“Ika…. Ika tunggu Mama di sini sama Kak Gunawan, yaa….” ujar Gunawan sambil berjongkok. Ika melongokkan kepalanya sambil menggeleng. “Ika mau ikut Tante aja.” katanya. Gunawan mengeluh dalam hati. Ia kembali berdiri.

“Berapa nomor telepon Mamanya Ika, Bu. Biar saya telepon dia sekarang.” kata Gunawan sambil mengeluarkan ponselnya.

“Dia nggak mungkin bisa ke sini dengan belanjaan sebanyak itu! Kenapa you nggak bisa ngerti, sih?” tanya si Bapak dengan nada marah.

“Dia bisa menitipkan belanjaannya di kasir, Pak.” jawab Gunawan berusaha tegas. “Berapa nomor teleponnya, Pak?”

“Begini, Mas….” kata si Bapak melunak. “Coba you lihat dari posisi kami di sini. Oke? Seandainya you dimintai tolong oleh seorang teman you untuk melakukan pekerjaan mudah, yaitu menjemput anaknya di dekat pintu keluar. Apakah you akan menolaknya? Tidak, kan? Dan bagaimana kalau ternyata you gagal melaksanakan tugas mudah tersebut? Dan teman you terpaksa harus menyelesaikan sendiri tugas menjemput anaknya, karena you tak bisa bisa melakukannya, apapun alasannya. Apa you tidak malu?” tanyanya. “Kalau saya terus terang akan merasa sangat malu jika Mama si Ika terpaksa harus turun sendiri ke sini untuk menjemput Ika. Karena saya sudah menyanggupi permintaannya untuk menjemput Ika, dan mengatakan padanya bahwa ini adalah tugas yang mudah bagi saya.” katanya lagi. “Bagaimana perasaan you  jika ada di posisi saya?”

Gunawan menarik nafas panjang. “Saya akan coba jelaskan kepada Mama Ika supaya beliau mengerti kesulitan Bapak dan Ibu di sini. Saya yakin beliau bisa memahami. Berapa nomornya, Pak?” tanya Gunawan untuk ke sekian kalinya.

“Saya tidak mungkin memberikan nomornya kepada you. Dia tidak kenal you.” kata si Bapak dengan wajah merah padam. “Baiklah, saya saja yang menghubunginya.” katanya sambil mengeluarkan ponselnya dan berjalan menjauh. Si Ibu mengikutinya. Si Ika mengikuti si Ibu.

“Ika… Ika di sini aja sama Kak Gunawan.” bujuk Gunawan.

“Nggak mau.” ujar Ika sambil mencengkeram rok si Ibu. Ia begitu ketakutan.

“Ibu, mohon kerjasamanya Ibu. Sebaiknya Ibu tetap di sini bersama Ika sampai Mamanya datang.” pinta Gunawan pada si Ibu. Wanita itu menatap Gunawan dalam-dalam.

“Saya hanya menjalankan tugas saya di sini, Bu. Bukan maksud saya untuk menyusahkan Ibu dan Bapak. Mohon pengertiannya.” lanjut Gunawan. Si Ibu tidak menjawab. Tapi ia tidak melanjutkan langkahnya.

“Terima kasih, Ibu.” ujar Gunawan. Lalu ia berjalan kembali ke meja informasi. Kepada si Mbak di meja informasi, ia meminta diumumkannya pemberitahuan baru.

“Kepada ibunya Ika. Kami minta agar datang sendiri ke meja informasi dekat pintu masuk untuk menjemput Ika. Terima kasih…” kata si Mbak menggunakan mikrofon PA. Gunawan mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.

Tak berapa lama, seorang wanita lain muncul dengan langkah terburu-buru mendekati meja informasi.

“Mama………..” jerit Ika sambil berlari mendekati wanita tersebut. Wanita itu langsung memeluk dan menggendongnya. Selama beberapa saat ia berbicara dengan si Bapak dan si Ibu yang terlihat masih kesal pada Gunawan. Wanita itu mengangguk-angguk lalu mendekati Gunawan di meja informasi.

“Aduh, maaf ya, Mas. Saya jadi merepotkan Mas-nya di sini. Saya mamanya Ika.” katanya sambil mencium Ika.

“Tidak apa-apa, Ibu. Ini memang sudah tugas saya.” jawab Gunawan sambil tersenyum. “Jadi ini mama kamu ya, Ika? tanya Gunawan kepada Ika. Bocah itu hanya melengos memalingkan mukanya.

“Eeh…. Jangan begitu dong, Ika. Yang sopan sedikit. Kalau ditanya itu harus jawab.” tegur si Mama. Ika memberengut.

“Ya, udah. Nggak apa-apa, Ibu. Yang penting Ika udah ketemu lagi sama Ibunya.” kata Gunawan sambil tertawa.

“Sekali lagi makasih ya, Mas.” kata si Mama pada Gunawan.

“Sama-sama, Ibu.” jawab Gunawan. Si Mama segera berlalu bersama kedua temannya sambil tetap menggendong Ika. Bocah perempuan itu melirik Gunawan sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya. Gunawan tersenyum masam.

*****

10 thoughts on “Suatu Hari di Sebuah Mall

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s