Koalisi Partai

koalisi-partai

Sebelum pemilu legislatif digelar, seorang ketua umum partai ditanya oleh wartawan.

Wartawan: “Mengapa Bapak membuat partai baru, Pak? Mengapa tidak bergabung saja dengan partai yang sudah ada?”
Ketum Partai: “Lhoo… partai-partai lain itu memiliki cara pandang yang berbeda dengan kami. Kami tidak mungkin bergabung dengan partai yang tidak sejalan dengan pemikiran kami. Karenanya kami harus membentuk partai sendiri……”

Setelah pemilu dan penghitungan suara selesai, ketum partai tersebut kembali ditanya oleh wartawan.

Wartawan: “Mengapa Bapak memilih untuk berkoalisi dengan partai pemenang pemilu, Pak? Mengapa tidak menjadi oposisi saja?
Ketum Partai: “Karena ternyata partai tersebut memiliki kesamaan visi dan misi dengan kami. Sudah selayaknya kita berkoalisi untuk kepentingan bersama….”

====================

Cerita dagelan di atas bukan cuma isapan jempol saya. Tapi benar-benar kenyataan dalam dunia politik negeri kita. Mengapa harus membuat partai sendiri-sendiri jika akhirnya koalisi? Partai Islam sama saja. Mengaku sebagai partai yang paling sesuai syariah, ujung-ujungnya koalisi juga dengan partai pemenang pemilu. Masing-masing punya ambisi untuk jadi penguasa. Masing-masing pengen dapat jatah jadi pejabat. Islam cuma jadi kedok untuk mendapatkan simpati (baca: suara) rakyat.

Jangan salahkan mereka yang akhirnya memilih golput. Saya sendiri bingung saat akan mencoblos pada Pemilu Legislatif kemarin. Caleg yang mana? Tidak ada satu nama-pun yang saya kenal. Partai yang mana? Tidak ada satu partai-pun yang saya yakini mendukung aspirasi rakyat. Tidak ada!

Akhirnya saya main asal coblos saja. Saya yakin tindakan saya itu salah. Karena memilih itu adalah amanat yang harus dikerjakan secara serius dengan pemikiran matang, bukan asal-asalan. Kalau memang tidak ada satupun caleg yang kita kenal sebagai anggota masyarakat, yang aktif (setidaknya) di lingkungannya, mungkin sebaiknya kita tidak memilih….

Iklan

6 thoughts on “Koalisi Partai

  1. Makanya nggak salah kalo banyak yang nggak golput gara-gara dikasih uang goban, Money politic :money buat gue, politik urusan elu :mrgreen: Kadang akang juga bingung kemarin nyoblos partai A karena nggak cocok sama partai B, eh gosipnya sekarang partai A berkoalisi sama partai B aduh akang jadi puyeeeeeeng. 😥

    • Betul itu, Kang. Koalisi itu sebenarnya adalah sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh partai terhadap pemilihnya. Si pemilih mengira partai A adalah partai idealis yang pro rakyat. Ehh… ternyata ikut koalisi dengan partai penguasa…. Udah jelas niatnya, kan? Supaya dapat jatah saat acara bagi-bagi jabatan.

  2. mungkin kasusnya mirip dengan kenapa kita membuat banyak komunitas. Karena setiap komunitas punya ciri khas masing-masing. Tetapi dalam suatu hal, baksos misalnya, komunitas-komunitas dipaksa harus “berkoalisi”. 🙂

    • Hehehe…. Komunitas itu tidak butuh suara rakyat untuk bisa eksis.
      Dan anggota komunitas itu tidak akan pernah didapuk jadi wakil rakyat yang berperan penting menentukan nasib seluruh rakyat negeri ini. Begitu, Mas Nugroho. 🙂

      • dalam setiap tubuh ada kesamaan dan ada pula perbedaannya. Antara komunitas maupun partai sama-sama ingin eksis. Partai adalah alat untuk bisa duduk di dewan. Dewan adalah perwakilan dari basis massa. Tak ada yang salah dengan sistem, partai, dewan, koalisi atau pun lainnya. Yang bermasalah adalah orang-orang di dalamnya. 🙂

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s