Usai Jam Kantor

office

Bagian sebelumnya: Cerita Akhir Pekan

Ramadhan masih terpaku di depan komputernya. Sudah tidak ada orang lain di ruangan tersebut. Rekan-rekannya sudah pulang hampir satu jam yang lalu. Ia menatap ke luar jendela. Jalanan masih terlihat macet dan membuatnya malas untuk segera pulang.

Ia mengangkat ponselnya yang berbunyi.

“Halo.”

“Halo, Papa.” terdengar suara putri sulungnya dari ujung telepon yang lain.

“Halo, Sayang. Ada apa?” tanya Ramadhan senang. Ia selalu senang kalau anak-anaknya menelepon.

“Papa lagi sibuk?”

“Sekarang ini nggak, sih. Kenapa?”

“Papa kok sekarang pulangnya malam terus? Banyak kerjaan, ya?”

“Iya, Sayang. Maaf, yaaa…..” jawab Ramadhan dengan nada bersalah.

“Sekarang bisa pulang cepat nggak, Pa?”

“Kayaknya nggak bisa tuh. Emangnya kenapa? Kamu sakit?”

“Nggak sih, Pa. Tapi kalau Papa pulang malam terus kan kita semua udah pada tidur.”

“O iya. Betul. Kalau gitu besok Papa pulang cepat, deh. Gimana?”

“Ya udah. Kalau gitu besok kita makan malam bareng ya, Pa.”

“Sip…”

Ramadhan termangu setelah pembicaraan dengan putrinya selesai. Pikirannya melayang ke suatu malam beberapa minggu yang lalu saat ia sedang di rumah. Waktu itu ia mendatangi Rani, istrinya yang tengah tertidur di kamar. Ramadhan membelai rambutnya dan mencium keningnya.

Rani membuka matanya dan menatap ke arah Ramadhan. Tanpa mengatakan apa-apa, Rani langsung membalikkan badannya dan melanjutkan tidur. Dengan sabar, Ramadhan kembali mengelus rambut istrinya.

“Udahlah, Pa.” kata Rani sambil menepis tangan suaminya. Ramadhan terdiam sejenak.

“Kenapa, Ma?” tanyanya setengah berbisik.

“Mama capek, Pa.” jawab istrinya. Ramadhan menarik nafas panjang.

“Secapek itukah, Ma?”

“Ya, Pa.”

Ramadhan terlihat kecewa. Ia menghempaskan badannya ke kasur.

“Apakah Mama tau, kalau menolak suami itu dosa?” tanya Ramadhan sambil melirik ke arah punggung Rani. Tidak ada jawaban.

“Apakah Mama sudah benar-benar tidak mencintai Papa lagi?” tanya Ramadhan sambil menyentuh bahu istrinya.

“Mama tidak tahu, Pa.” terdengar jawaban pelan dari Rani. Ramadhan bangkit dan berdiri.

“Apakah ada orang lain, Ma?” tanyanya dengan dada sesak.

“Mama tidak punya waktu untuk orang lain, Pa. Mama sudah capek dengan urusan pekerjaan dan urusan di rumah.” jawab Rani tanpa menoleh. Ramadhan memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.

“Jadi Mama sudah tidak mau memberikan kesempatan lagi buat Papa, ya?” tanya Ramadhan lagi. Kembali tidak ada jawaban. Ramadhan mengambil bantal dan meletakkannya di sofa. Ia membenamkan kepalanya pada bantal dan berusaha untuk tidur.

“Haii…..!!”

Sapaan tersebut membuat Ramadhan tersadar dari lamunannya.

“Masih sibuk, Dhan? Lagi ngerjain apa sih?” tanya si Gadis Manis sambil mengambil kursi dan duduk di sebelah Ramadhan.

“Cuma ngecek data stok kok, Vien.” jawab Ramadhan sambil tersenyum.

“Jadi nggak, nemenin aku belanja?” tanya si Vien.

Ramadhan mematikan komputernya dan berdiri. “Ayo.” katanya.

Vien berdiri sambil tersenyum. Ia memeluk lengan Ramadhan dan mengikuti langkahnya menuju ke pintu.

“Kita mau langsung belanja atau makan dulu, Vien?”

“Langsung belanja aja. Pulangnya baru kita makan. Oke, Dhan?”

“Oke.” jawab Ramadhan sambil mematikan lampu dan menutup pintu.

*****

4 thoughts on “Usai Jam Kantor

Ayo, Kasi Komentar doooong......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s